Acara Muslim United Pindah, Ustadz Salim Afillah: 'Masjid Milik Siapa?'





Masjid Gede Kauman Keraton Jogjakarta
Masjid Gede Kauman Keraton Jogjakarta
Acara Muslim United 2 yang seharusnya berlangsung di Masjid Gede Keraton Jogjakarta akhirnya dipindah di Masjid Jogokariyan.

Hal tersebut dilakukan karena Pihak keraton tidak mengizinkan acara Muslim United 2. Malah-malah Putri Sultan GKR Bendara menghimbau warga Jogja untuk tidak hadir di acara tersebut. Tak cukup disitu GKR Bendara menduga, ada unsur provokasi dalam acara yang rencananya dilaksanakan selama tiga hari itu. [Baca: Muslim United Pindah ke Jogokariyan, Postingan Putri Sultan "Pemilik Masjid Lebih Tinggi dari Takmir"]


Tiba-tiba Ustadz Salim Afillah yang juga menjadi pembicara di dalam acara tersebut menuliskan artikel berjudul "Masjid Milik Siapa?". Berikut Tulisan Ustadz Salim Afillah yang diunggah di laman Instagram.

Ustadz Salim Afillah: 'Masjid Milik Siapa?
Gambar Postingan Ustadz Salim Afillah di Instagram


"MASJID MILIK SIAPA?
@salimafillah
.
Keraton Baghdad di zaman Harun Ar Rasyid berbentuk melingkar dengan jari-jari 40 mil. Bentengnya berlapis 7 dengan dinding terluar setinggi 40 kaki dan tebal bagian atasnya seukur bisa dilewati 4 kereta berjajar sekaligus. Sungai Tigris dialirkan mengelilingi benteng sebagai pertahanan.
.
Makin ke lapis dalam, benteng Keraton makin tinggi. Puncak benteng lapis ke-7 membuat Sang Khalifah bisa berkata pada awan yang melintas, "Hai awan, pergilah ke manapun kau suka, jatuhlah di manapun kau mau; nanti pajak hasil buminya akan tetap mendatangiku."
.
Berapa lama perjalanan dari bagian terdalam Keraton-nya Harun Ar Rasyid yang berpenduduk 3 juta orang itu hingga mencapai benteng terluarnya? Sehari-semalam perjalanan. Wow sekali, bukan? Inilah yang suatu hari menimbulkan masalah.
.
Alkisah, Harun marah pada permaisuri tersayangnya, Ratu Zubaidah. Lalu keluarlah sumpahnya, "Jika malam ini kau masih di Keratonku hai Zubaidah, maka otomatis kau ter-thalaq dariku!"
.
Repotnya, beberapa saat kemudian Baginda menyesali kata-katanya. "Aku tadi bicara apa? Ya Allah. Tidak. Aku tidak ingin berpisah darimu, Zubaidah!"
.
Apa solusinya?
.
Jika Zubaidah bisa keluar dari Keraton Harun Ar Rasyid malam itu, maka dia takkan tercerai. Masalahnya ya itu tadi; perlu sehari semalam untuk keluar dari Keraton Harun. Saat malam berakhir, Zubaidah pasti belum berhasil keluar dari Keraton suaminya.
.
Masalah ini lalu ditanyakan pada 'Ulama besar, 'Abdurrahman ibn Mahdi, atau dalam riwayat lain Imam Asy Syafi'i. Jawab Sang Mufti; "Hendaklah Zubaidah malam ini menginap di Masjid. Karena Masjid bukanlah bagian Keratonnya Harun Ar Rasyid. Maka dengan begitu, dia tidak terkena sumpah suaminya."
.
Dalilnya?
.
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (18)
.
"Dan sesungguhnya Masjid-masjid itu semata milik Allah, maka janganlah kalian ibadahi di dalamnya selain Allah." (QS Al Jinn: 18)
.
Meskipun dibangun oleh Khalifah yang rajin ibadah, dan berada di dalam kompleks Keratonnya, tapi Masjid bukanlah bagian dari Keraton itu. Pemilik Masjid itu adalah Allah. Demikian hakikatnya.
_____
Bahagia sekali tempo hari sempat mengunjungi Masjid Shizuoka.

Sebelumnya Ustadz Salim juga mencuitkan cuitan 'kita tidak mau diadu-adu dengan Sultan...'

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Acara Muslim United Pindah, Ustadz Salim Afillah: 'Masjid Milik Siapa?'"

  1. Kalo ada yg merasa memiliki mesjid dimanapun..berarti anda selama lamanya tidak mendapat pahala dari mesjid tsb.! sama seperti orang yg sudah memberikan sesuatu kepada orang lain, tapi dia selalu menyebut2 pemberiannya tsb. didepan orang yg diberikannya..maka hilanglah pahalanya..!

    BalasHapus
  2. Kalo masih merasa memiliki mesjid tsb. maka seharusnya namanya dirubah bukan masjid lagi tapi menjadi tempat ibadah saja..karena yg namanya masjid itu adalah milik Alloh untuk seluruh umat islam..bukan untuk kalangan tertentu saja..!

    BalasHapus
  3. Jadi kelihatan lucu keraton jogya ini.... Mari Kita maafkan smg hanya krn ketidaktahuan atau kekhilafan semata. Ke depan tdk ada salah paham krn fitnah politik.

    BalasHapus