Waspada Liberalisasi Sumber Daya Alam Berkedok Investasi di Cilacap





Kilang Minyak Cilacap

Oleh : Jafisa ( Aktifis Remaja dan Penanggung Jawab Pena Muslimah Cilacap )

Sebagai kabupaten terluas di Provinsi Jawa Tengah, Cilacap memiliki beragam peluang investasi. Hal
tersebut disampaikan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji saat menerima kunjungan Duta Besar dan
Diplomat dari beberapa negara sahabat, di Pendopo Wijayakusuma Cilacap, Sabtu (20/10/2018)
malam.


“Di Cilacap ada 32 ribu hektar lahan yang siap dikembangkan menjadi kawasan industri. Selain itu
kami juga memiliki berbagai sektor dengan peluang investasi yang menjanjikan”, kata Bupati.

Pernyataan tersebut didukung oleh data pertumbuhan ekonomi yang dipaparkan Kepala Dinas
Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPT SP) Kabupaten Cilacap, Budi Santosa.
Tercatat laju pertumbuhan ekonomi sekitar 5 % pada periode 2012 – 2017, sehingga cukup mantap
untuk mendukung foreign investment (investasi asing).

“Hal ini dibuktikan dengan realisasi investasi. Dari target sekitar Rp 800 miliar per tahun, pada 2016
bahkan tercapai Rp 11 triliun. Sedangkan pada 2018 hingga Agustus, realisasi investasi telah
mencapai Rp 4 triliun”, kata Budi.

Sebelumnya, rombongan Diplomatik tersebut diajak menyaksikan langsung beragam peluang
investasi melalui stand pameran yang ada di sekitar halaman Pendopo. Antara lain kerajinan batik
tulis, handycraft, budidaya ikan sidat, produk olahan hasil laut dan peternakan, serta seni budaya.
Mewakili rombongan diplomat, Duta Besar Serbia, Slobodan Marincovik dalam sambutanya
mengapresiasi sambutan yang diberikan Pemkab Cilacap dan warga masyarakat. Kedatangannya yangpertama kali ini, diharapkan dapat berlanjut dalam kerjasama antar negara yang saling
menguntungkan.(don_gs/kominfo).

https://jatengprov.go.id/beritadaerah/cilacap-potensial-untuk-berbagai-sektor-investasi-asing/

..

Sebelumnya, Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR telah menetapkan Cilacap sebagai Pusat
Kegiatan Nasional, sehingga Cilacap harus mengakomodir proyek dan program strategis nasional.
Proyek pembangunan ini meliputi Infrastruktur, sumber daya energi dan transportasi perhubungan.
Hal ini akan menyebabkan pergeseran dan perpindahan tata ruang yang cukup signifikan. Bukan
hanya itu, akan ada juga pengembangan wilayah yang termuat dalam RT/RW seperti pengembangan
Kecamatan, pemukiman dan kawasan peruntukan industri.

Cilacap juga berfungsi sebagai penyangga pangan tingkat Provinsi Jawa Tengah dengan luas tanah
pertanian dan sawah 58913 Hektar. Juga dilihat dari aspek kebencanaan yang terkategori rawan
bencana menjadikan Cilacap lebih diperhatikan dari berbagai Kabupaten lainya.

Cilacap sendiri merupakan Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang wilayahnya terletak dibagian Selatan Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Cilacap memiliki luas wilayah 225.360,840 ha atau sekitar 6,94 persen dari luas Provinsi Jateng. Cilacap juga merupakan Kabupaten yang kaya dilihat dari leak geografis yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia yang otomatis kaya akan sumber daya laut. Letaknya yang strategis dekat dengan laut, membuat Cilacap disinggahi kapal besar dan kawasan industri.

Bukan hanya itu, potensi bahan galian yang masuk dalam sektor sumber daya alam di Cilacap
meliputi banyak komponen diantaranya :

1. Minyak dan gas bumi
2. Batu bara yang terdapat di Kecamatan Dayeuhluhur, Binangun dan Jetis memiliki cadangan
744.678,85 ton yang dipegang oleh 4 pemegang kuasa pertambangan
3. Bentonite yang berada di Karang Pucung seluas 10 hektar, sebelumnya juga ditemukan adanya
cadangan bentonite di desa Pesanggrahan yang membutuhkan penelitian lanjutan
4. Trass
5. Talk
6. Andesit (batu gunung)
7. Gamping yang terdapat di pulau Nusakambangan dengan jumlah berkisar 1.170.000.000 ton yang
ditambang oleh PT.Holcim
8. Pasir sugar dan pasir batu
9. Lempung
10. Tanah urug

Dan belum lagi ditambah dengan kekayaaan sumber daya lautnya. Namun sayang, dibalik slogan
'kaya' ada realita yang berbeda. Sebagai Kabupaten dengan pendapatan daerah Sektor sumber daya
alam namun masih banyak kemunduran diberbagai bidang. Adanya sumber daya alam yang melimpah
menjadikan Cilacap sebagai sasaran empuk para investor asing dan aseng. Program investasi ini
merupakan program yang dianggap dominan oleh pemerintah namun realitanya antar berantah.
Mengapa demikian? Karena kran investasi ini didorong oleh bank dunia dan hanya memfokuskan
pada percepatan investasi tanpa memperhatikan dampak dan pengaruh kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat Cilacap masih dirindung kemakmuran yang semu.

Ambisi pemerintah mempercepat investasi ini diklaim sebagai jalan memajukan bangsa, sehingga
mereka terus menggenjot dengan berbagai cara melalui lima prioritas yaitu Pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM), pembangunan Infrastruktur, penyederhanaan peraturan, penyederhanaan
birokrasi dan ekonomi. Padahal kelima poin tersebut tidak jelas arahanya. Lihat bagaimana konflik

antara PLTU didesa Sugihan tak kunjung usai, belum ada tindakan ril dari pemerintah mengenai hal
ini sementara pencemaran udara mendekati angka darurat.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan sumber daya alam terbesar, baik sumber daya yang bisa
diperbarui maupun yang tidak bisa diperbaharui seperti minyak dan gas alam. Indonesia menduduki
peringkat ke-25 negara potensi minyak terbesar dengan cadangan minyak sebesar 4,4 miliar barrel.
Dan berada di posisi ke-21 sebagai penghasil minyak mentah terbesar di dunia yakni sebanyak 1 juta
barrel per hari, dan menduduki peringkat ke-2 sebagai pengekspor LNG terbesar yaitu 29,6 bcf.

Melihat semua potensi ini sudah tidak dipungkiri akan kekayaan alam Indonesia. Namun ironisnya
semua kekayaan alam tersebut sebagian besar dinikmati oleh negara-negara asing karena Indonesia
belum mampu mengelolanya sendiri. Menurut SKK Migas eksplorasi minyak terbesar di Indonesia
masih berada di tangan PT. Chevron Pacific. Perusahaan asal Amerika ini masuk ke Indonesia tahun
1920.

Chevron merupakan penggabungan dari Standard Oil of California dan Texaco pada tahun 1930, yang kemudian melakukan eksplorasi besar-besaran khususnya di Sumatera bagian tengah. Pada tahun 1940 Chevron menemukan minyak di lapangan Sebangga dan lapangan Duri di tahun 1941. Hingga Februari 2014, Chevron telah mengeksplorasi minyak sebanyak 308.528 barrel per hari. Sementara PT Pertamina berada di posisi kedua dengan jumlah penghasilan 113.152 barrel per hari. Lalu Petro China berada di posisi terakhir pada sepuluh perusahaan yang melakukan eksplorasi minyak terbesar di Indonesia yaitu dengan jumlah 15.406 barrel per hari.

Sebagai penyuplai Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Listrik nasional, program ini dikhawatirkan akan
berdampak buruk kedepan, melihat buruknya tata aturan dan pengelolaan Negeri mengenai sumber
daya alam. Sebagai negeri bekas jajaha seharusnya investasi semacam ini perlu ditimbang kembali
guna keberlangsungan kehidupan masyarakat Cilacap dan negeri tercinta Indonesia bukan untuk
memakmurkan dan mensejahterakan pihak asing.

Wallahua'lam biash-shawab. []

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Waspada Liberalisasi Sumber Daya Alam Berkedok Investasi di Cilacap"

Posting Komentar