Nasrudin Joha: Pelantikan Jokowi Ma'ruf, Ini Pesta Elit Bukan Pesta Rakyat





Pelantikan Jokowi Ma'ruf, Ini Pesta Elit Bukan Pesta Rakyat

Benteng yang mampu melindungi penguasa dari amuk rakyat itu keadilannya. Ketika penguasa 'khawatir' pada rakyatnya, takut dan mengambil jarak berlebihan dengan rakyatnya, itu menunjukan sedang ada 'hubungan yang tidak baik' antara rakyat dengan penguasa.


Boleh jadi, tali yang menghubungkan rakyat dengan penguasa bukanlah tali 'keadilan' tetapi justru noktah 'kezaliman'. Noktah inilah yang membentuk jarak, yang jarak ini diperluas oleh ketakutan penguasa dan berubah menjadi jurang yang menganga lebar, yang tak lagi memungkinkan adanya hubungan karib dan tak ada pose saling berpelukan antara rakyat dengan penguasa.

Siang tadi, penulis melewati jalan tol dari arah Jl. S Parman menuju tol dalam kota, didalam perjalanan penulis melirik kearah gedung parlemen, rumah rakyat yang sedianya tanggal 20 Oktober nanti akan mengadakan hajatan akbar. Seyogyanya, selayaknya hajatan atau pesta, suasana yang hadir adalah suasana riang, gembira dan bahagia.

Saat dikampung ada gelaran hajatan, ada pesta mantu atau sunatan, saat akan ada hiburan layar tancap, sepanjang kiri kanan rumah si empunya hajat nampak riang dan meriah. Tamu berdatangan, anak-anak mengumpul, pedagang riuh melayani pembeli yang mendapat hiburan rakyat dari si empunya hajat. Tenda biru, ditegakan meriah dihalaman rumah.

Tapi tidak demikian suasana di gedung DPR, di rumah rakyat yang akan dijadikan ajang pesta menyambut pemimpin pada 20 Oktober nanti. Yang muncul, justru suasana tegang, seram, jauh dari kesan riang gembira apalagi bahagia.

Didalam gedung parlemen, di sekitar halaman gedung DPR RI dari luar nampak berbagai peralatan pengamanan, dari mobil barakuda, pasukan polisi, alat pengendali masa. Diluar pagar, kawat berduri dibuat melingkar mensterilkan rumah rakyat agar tak terjamah oleh pemiliknya.

Pasukan pengaman baik polisi maupun TNI terlihat berbaris, banyak tenda penginapan. Seolah mau siaga perang saja. Dan kabarnya, sejumlah 31 ribu pasukan gabungan memang disiagakan untuk mengamankan pelantikan Jokowi - Ma'ruf.

Publik mungkin juga bertanya-tanya, ini sepertinya pesta rakyat atau pesta pejabat ? Ini sebenarnya, mau mengabarkan kedekatan pemimpin dengan rakyatnya atau justru mengabarkan betapa pemimpin berada di anjungan tinggi tahta suci sehingga sulit dijamah rakyat ?

Atau sebenarnya, memang ini hanyalah pesta kaum elit, pejabat dan DPR, dimana rakyat dihalangi oleh kawat berduri, tak boleh ikut nimbrung berpesta dirumah yang konon disebut rumah rakyat ? Katanya Jokowi orangnya merakyat ? Suka blusukan ? Kenapa harus ada kawat berduri antara rakyat dengan Jokowi ?

Jika kondisi perayaan itu demikian mencekam, tegang, menakutkan, bagaimana rakyat bisa bersenang-senang dan bergembira ? Katanya rakyat diminta bergembira menyambut pelantikan ? Minta ikut mendoakan ?

Bagaimana mungkin ada rasa 'sebatin, seperasaan dan sepemikiran' jika secara fisik kekuasaan telah membuat jarak dengan pagar dari kawat berduri ? Bukankah kawat ini akan melukai rakyat, ketika rakyat mendekat dan berusaha memeluk pemimpinnya ?

Karena itu, jangan salahkan rakyat yang menjauh, kian acuh dan tak mau ikut dalam suasana kebahagiaan penguasa. Yang senang dan gembira itu kroni penguasa. Rakyat mah terus dipalak dengan berbagai pajak dan pungutan.

Pesta elit itu tidak mungkin merasakan suasana kebathinan rakyat. Biarlah, jarak itu ada dan menjadi jurang lebar. Karena kami rakyat kecil ini, telah paham bahwa penguasa itu hadir bukan untuk kami, tapi untuk melayani kaum pemodal, para penjajah asing dan aseng. Mereka, adalah antek kapitalisme global dan mitra komunisme China. [].

Penulis : adalah penulis Senior Indonesia paling kondang

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nasrudin Joha: Pelantikan Jokowi Ma'ruf, Ini Pesta Elit Bukan Pesta Rakyat"

Posting Komentar