Aroma Liberalisme Dalam Film The Santri





Aroma Liberalisme Dalam Film The Santri

AROMA LIBERALISME DALAM FILM THE SANTRI

Oleh Ainul Mizan

Film The Santri besutan Livi Zheng yang diinisiasi oleh PBNU, direncanakan akan tayang di bulan
Oktober mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Santri ( www.m.cnnindonesia.com , Senin
16/9/2019). Film ini akan dibintangi sejumlah pendatang baru seperti Azmi Iskandar, Wirda Mansur
dan Veve Zulfikar.


Sinopsis film The Santri ini mengisahkan kehidupan di sebuah pondok pesantren yang lagi
mempersiapkan peringatan Hari Santri. Pada momen itu pula akan diumumkan 6 orang santri
terbaik yang akan diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat. Pertanyaannya, mengapa yang
dipilih adalah Amerika Serikat?

Hal ini sejalan dengan pernyataan Livi Zheng bahwa film terbarunya, The Santri akan dipasarkan ke
Amerika Serikat. Menurutnya di Amerika Serikat akan lebih mudah menembus pasar. Sebelumnya
Livi Zheng mengungkapkan bahwa ia mempromosikan eksotisme Bali di AS melalui filmnya, Beats of Paradise ( www.poskotanews.com , 15 Agustus 2019).

Sedangkan Livi Zheng sendiri memang seorang sutradara dari Indonesia yang pernah meraih
penghargaan “Culture Ambassador” di Amerika Serikat. Tentunya film – film besutannya termasuk
The Santri menjadikan AS sebagai barometernya. Konsekwensinya di dalam film The Santri tidak
bisa dilepaskan dari nilai – nilai yang sejalan dengan nilai yang berlaku di AS.

Dengan menjadikan cita – cita dan keinginan seorang santri untuk bekerja di AS, di dalam adegan
film The Santri, ini saja sudah memberikan indikasi adanya propaganda menjadikan AS sebagai
kiblat modernitas kaum milenial.

Di samping adanya kecenderungan yang menguat dari kaum Muslimin, terutama kaum milenialnya
untuk dekat dengan Islam. Maraknya fenomena hijrah di tengah para artis, yang menandakan
kejenuhan akan gaya hidup liberal. Begitu pula, adanya sikap apatis terhadap Demokrasi yang
semakin hari semakin karut marut, ditandai dengan pemerintahan yang abai terhadap rakyatnya. Di
lain sisi, semakin menguatnya Islam Politik. Hal demikian bisa dilihat dari kebarakaran jenggotnya

para petinggi negeri ini terhadap menguatnya fenomena bendera Tauhid dan Khilafah. Artinya nilai
– nilai AS melemah secara drastis, kalau tidak boleh dibilang sudah tidak diminati.

Pada aspek yang lain, menguatnya China menjadi pesaing ekonomi AS di kawasan. Mega proyek
OBOR China mampu memberikan tekanan ke beberapa negara dengan utang yang ditawarkannya.
Indonesia pun harus kepincut dengan menandatangani 28 proyek yang akan diikutkan OBOR
( www.m.liputan6.com , 29 April 2019). Parahnya, pemindahan ibu kota ke Kalimantan pun disinyalir mendekati jalur sutra OBOR.

Dengan kata lain, AS sedang sibuk memperkuat pengaruhnya dan memperbaiki citranya di
Indonesia.

Langkah strategisnya adalah dengan menanamkan nilai dan peradabannya. Penulis melihat bahwa
ada 2 (dua) nilai utama yang kental dalam film The Santri, yaitu Liberalisme dan Sinkretisme.
Menurut Wikipedia, paham Liberalisme merupakan sebuah paham yang mencita – citakan
terbentuknya suatu masyarakat yang bebas, dengan dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi individu.
Maka yang lahir adalah liberalisme budaya dan perilaku.

Salah satu bentuk liberalisme budaya dan perilaku yang ada di dalam The Santri adalah aktivitas
pacaran. Dibuatlah sebuah prototype baru seorang santri jaman milenial. Tidak tabu bagi mereka
untuk sekedar berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi hanya sekedar main mata.

The Santri, sebuah film yang akan dirilis di Hari Santri mendatang 22 Oktober 2019, telah
menggeser jauh idealisme seorang santri. Seorang santri yang berkomitmen menimba ilmu agama
dengan baik, menjaga perilaku islami, dan senantiasa berkhidmat kepada para ulama pejuang yang
mukhlisin. Seketika Hadrotusy Syaikh Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober
1945, segera kaum santri menyambutnya dengan gempita. Mereka bertekad mengusir penjajah.

Semangat mengusir penjajahan dalam segala bentuknya patutnya untuk selalu menjadi komitmen
santri. Merekalah yang diharapkan menjadi pelita – pelita umat. Bukan justru kaum santri
menjadikan AS sebagai kiblat pemikiran dan budayanya.

Bagaimanakah kaum santri saat ini akan menjadi pelita umat yang di tangan mereka terletak
harapan besar untuk membebaskan umat dari penjajahan bila mereka dijejali dengan budaya
hedonis dan liberal?

Bagaimanakah pula kaum santri akan mencurahkan pikirannya untuk kemajuan umat, bila kaum
santri disibukkan dengan memikirkan cinta dan harta?

Bagaimanakah kaum santri bisa dicetak sebagai kader yang bisa menjadi contoh sebagai muslim
yang bertaqwa, sementara itu perilakunya menerjang batasan – batasan syariat Islam?

Ketika propaganda Liberalisme budaya dan perilaku sudah menjadi trend kehidupan kaum
muda,maka masuklah propaganda Liberalisme Aqidah dan Keyakinan. Di dalam filmThe Santri ini
digambarkan bahwa tatkala ke-6 santri terbaik ini diterbangkan ke AS, mereka membawa tumpeng
syukuran untuk diberikan kepada para pendeta di sebuah gereja.

Memang agenda Liberalisme aqidah dan keyakinan akan berhasil efektif dilakukan dengan
mengajak anak – anak kaum Muslimin untuk sekedar berjalan – jalan ke luar negeri. Tentunya ke
luar negeri ini adalah ke negara – negara yang menjadi kiblat modernisasi dan liberalisme seperti
Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan yang lainnya.

Dengan melihat keteraturan dan kecanggihan kota dan kehidupan toleransi yang bebas di sana,
diharapkan mereka mempunyai pandangan yang bersahabat dengan dunia barat dan
peradabannya.

Adalah Rufa’at At Tahthowi dan Khoiruddin at Tunisi yang merupakan dua pelajar muslim di era
Khilafah Utsmaniyyah, dikirimkan untuk program pertukaran pelajar. Sekembalinya, keduanya
kemudian menjadi corong – corong ide Nasionalisme yang selanjutnya menjadi racun mematikan
bagi kesatuan wilayah ke-Khilafahan Islam.

Tidak jauh berbeda dengan Rufa’ah dan Khoiruddin at Tunisi, sekembalinya dari luar negeri, tiba –
tiba mereka menjadi orang yang inklusif dengan peradaban barat. Ambil contoh, Muhammad
Abduh yang menyatakan bahwa pemerintahan Inggris itu lebih islami. Atau ungkapan yang senada
dengan itu, misalnya ‘kami sudah menemukan Islam di Amerika, Jepang dan lainnya’. Biasanya di
Indonesia, kalangan yang getol menyuarakan liberalisme berkedok modernism adalah Kalangan
Islam Liberal dan kawan – kawannya.

Puncaknya, bahaya yang paling besar dari liberalisme Aqidah dan Keyakinan adalah Sinkretisme
Agama. Idealisme bahwa Islam adalah satu – satunya agama yang diridhoi di sisi Alloh SWT,
akhirnya luntur. Kaum muslimin tidak lagi merasa keberatan untuk sekedar mengucapkan selamat

hari raya kepada penganut agama lain. Mereka bersedia untuk duduk bersama di gereja guna
merayakan Hari Natal bersama. Mereka pun sudah berani mengatakan bahwa semua agama itu
benar dan tidak boleh ada klaim kebenaran satu agama tertentu atas yang lain. Tentunya yang
dimaksudkan adalah Islam.

Ya, mereka inilah yang akan dipasang menjadi ikon – ikon kebebasan dan permusuhan terhadap
upaya perjuangan penerapan Syariat Islam secara paripurna.

Entri poin yang dituju adalah kaum muslimin itu sendiri. Mereka menjadi antipati terhadap ajaran
agamanya sendiri. Tentunya hal demikian merupakan penikaman terhadap ajaran – ajaran Islam
yang mulia.

Penulis tinggal di Malang Jawa Timur.

**********

Kami menerima tulisan dri pembaca baik berupa kabar berita maupun opini, silaka kirim melalui email beritaislamterbru.org@gmail.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aroma Liberalisme Dalam Film The Santri"

Posting Komentar