NARASI POLITIK ULAMA Catatan untuk Ijtima' Ulama IV





Ijtima' Ulama IV

NARASI POLITIK ULAMA
Catatan untuk Ijtima' Ulama IV 

Oleh : Ahmad Sastra

Pasca presiden 2019 yang menyisakan banyak persoalan dan tragedi, para ulama kembali menyelenggarakan ijtima' ulama IV, 5 Agustus 2019 di Bogor. Para ulama kembali berkumpul untuk memikirkan kebaikan negeri muslim ini.


Indonesia, sebagaimana dipahami bahwa meski mayoritas muslim, namun Islam dan ulama justru sering dipersekusi dan dikriminalisasi. Ormas Islam bahkan tidak diberikan ruang untuk menyuarakan Islam.

Arus sekulerisasi di seluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegara nampaknya belum akan berhenti, bahkan nampak semakin deras. Sekulerisme telah menjerat negeri ini dan terus berusaha menghadang kebangkitan Islam.

Tercerabutnya nilai-nilai penghayatan agama dalam memaknai setiap tindakan para pemangku amanah negeri ini kian menganga. Agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Tuhan, sementara urusan duniawi tak diperlukan nilai dan spirit agama. Padahal sila Ketuhanan Yang Maha Esa mensyaratkan pentingnya nilai agama sebagai landasan teologis dan praksis dalam bernegara.

Dalam arus sekulerisme yang telah menjalar di hampir semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa ini, telah melahirkan kehampaan kehidupan. Cara berpolitik para pemimpin negeri ini tak lagi berpijak kepada nilai-nilai spiritual. Pijakan spiritual menghajatkan sebuah kesadaran mendalam bahwa apapun tugas yang diemban hakekatnya adalah bentuk penghambaan kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebab Allah menciptakan manusia memiliki tujuan spiritual, yakni penghambaan dan pengabdian kepada sang Pencipta.

Manusia dilahirkan dan dipilih oleh Allah adalah untuk menjadi sang pengabdi. Allah melarang keras manusia melakukan segala bentuk kezaliman dan kerusakan di muka bumi.

Derajat sang khalifah dalam al Qur’an dimaksudkan bahwa manusia hidup di bumi, apapun perannya, adalah untuk menjaga dan merawat bumi dan kehidupan. Segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial mestinya berpijak kepada nilai spiritualitas ini. Jika bangsa ini menginginkan keberkahan dan kesejahteraan kehidupan dari Allah Sang Maha Pemurah.

Ilmu dan ulama adalah dua kata yang saling berkaitan. Ulama adalah orang berilmu. Secara garis besar ulama terbagi tiga  (1) yang mengenal Allah; (2) yang memahami perintah Allah; (3) yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya. Ulama yang mengenal Allah adalah mereka yang takut kepada Allah, namun tidak memahami Sunnah.

Ulama yang memahami perintah Allah adalah mereka yang memahami Sunnah, tetapi tidak takut kepada Allah. Adapun ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya adalah mereka yang memahami Sunnah dan takut kepada Allah. Inilah orang yang disebut-sebut dengan kebesaran di Kerajaan Langit (HR al-Baihaqi, Syu’âb al-Imân).

Dalam perspektif Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw., tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu yang bersumber dari wahyu. Siapa saja yang menguasai ilmu syar’i serta menghiasi keyakinan dan amal perbuatannya dengan ilmu tersebut layak disebut sebagai ulama pewaris para nabi.

Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud).

Ulama pewaris nabi adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi saw., baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah. Mereka pun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan beliau dengan ilmu yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah Islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Ulama pewaris nabi adalah mereka yang rela menerima celaan, hinaan, intimidasi, pengusiran bahkan pembunuhan demi mempertahankan kemurniaan Islam dan membela kepentingan kaum Muslim. Ulama pewaris nabi bukanlah mereka yang plintat-plintut dalam berfatwa, menyembunyikan kebenaran, menukar kebenaran dengan kebatilan, serta mengubah pendirian hanya karena iming-iming dunia atau mendapat ancaman dari penguasa zalim. Mereka rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran dan menentang kebatilan.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menyatakan, “Ulama terdiri dari tiga kelompok. Pertama: Ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang dengan terang-terangan mencari dunia dan rakus terhadap dunia. Kedua: Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang menyeru manusia kepada Allah lahir dan batin. Ketiga: Ulama yang membinasakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain. Mereka adalah ulama yang mengajak ke jalan akhirat dan menolak dunia secara lahir, tetapi dalam batinnya ingin dihormati manusia dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Karena itu perhatikan pada golongan mana Anda berada.” (Al-Ghzali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Juz III).

Timbangan ulama dalam segala hal adalah syariat Islam, termasuk dalam masalah politik. Islam merupakan konsepsi  ideal bagi upaya penyelesaian semua permasalahan kehidupan manusia. Islam datang dari Allah yang maha sempurna dan maha mengetahui permasalan yang dihadapi manusia.

Rasulullah adalah sosok sempurna yang telah mendapat garansi dari Allah sang Pengutus. Secara normatif Islam adalah konsepsi ideal bagi upaya kebaikan kehidupan, dengan kata lain rahmatan lil alamin. Secara historis Rasulullah telah mengukir sejarah peradaban cemerlang melalui revolusi agung yang belum pernah ada catatan sejarah menyamainya.

Bagi Michael D Hart yang notabene non muslim menilai sosok Rasulullah sebagai  peletak peradaban agung. Sebagaimana dinyatakan  " …kesatuan tunggal yang tidak ada bandingannya dalam mempengaruhi sektor keagamaan dan duniawi secara bersamaan, merupakan hal yang mampu menjadikan Muhammad untuk layak dianggap sebagai sosok tunggal yang mempengaruhi sejarah umat manusia.."

Karena itu tugas ulama adalah mencerahkan dan meluruskan masyarakat, bangsa dan negara agar senantiasa berjalan di atas hukum dan syariat Allah serta menjauhkan sekulerisme. Visi politik Rasulullah adalah upaya membangun dan menerapkan syariat Allah dalam berbangsa dan bernegara demi menebar rahmat bagi alam semesta. Inilah narasi yang harus dibangun oleh seorang ulama, apapun resikonya. Visi mulia ini dilakukan semata karena Allah, bukan karena kedudukan dan materi duniawi.

[AhmadSastra,KotaHujan,05/08/19 : 16.50 WIB]

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "NARASI POLITIK ULAMA Catatan untuk Ijtima' Ulama IV "