Rekonsiliasi China dengan Islam, Mungkinkah?





Masjid di Cina Xinjiang

Beritaislam - oleh Ainul Mizan (Pemerhati Politik)

Ketua ICMI, Jimly ash Shiddiqie menyatakan bahwa jika China membutuhkan teman untuk
menghadapi barat, maka China harus bertenggang rasa terhadap dunia Islam (www.republika.co.id,
27/12/2019). Lebih lanjut, menurutnya, kebijakan China terhadap muslim Uighur telah menyinggung
dunia Islam. Walaupun pemerintah China terus beralasan bahwa perlakuan terhadap Uighur
merupakan kebijakan dalam negerinya.


Menarik untuk dicermati gagasan dari Pak Jimly tersebut. Paling tidak ada dua (2) hal dalam hal ini.

_Pertama_, dari sisi pihak China sendiri. Sesungguhnya platform China itu sebagai one state two
system. Artinya China itu sebuah negara dengan memakai 2 sistem ideologi. Di dalam negeri,
platform ideologinya adalah komunisme. Di luar negerinya, platform ideologinya adalah Kapitalisme.

Kebijakan China di dalam negeri sangatlah diktator. Semua lini kehidupan warganya harus sesuai
dengan asas Komunisme. Ada gejolak - gejolak penentangan akan segera ditindak bahkan secara
represif. Contoh paling nyata adalah kasus Tiananmen.

Saat ini, China menerapkan kebijakan represifnya kepada muslim Uighur di China. Untuk
membenarkan kebijakannya, China beralasan bahwa muslim Uighur berafiliasi dengan kelompok
radikalis teroris al Qaeda. Tragedi WTC digunakan sebagai alibi.

China ingin sekali menguasai wilayah Xinjiang yang kaya dengan sumber gas. Dan batu ganjalannya
adalah keberadaan Xinjiang yang menjadi wilayah otonomi di China. Ditambah lagi, muslim Uighur
yang menurut China berpotensi menjadi penghalang bagi ambisinya.

Tentunya perlu diambil langkah untuk menaklukan muslim Uighur. Pendekatan yang digunakannya
dengan menampung sekitar 1 juta muslim Uighur di kamp re-edukasi. Penanaman nilai - nilai
komunisme menjadi tujuannya.

Sedangkan pendekatan yang lain adalah dengan melakukan upaya merevisi kitab suci agama - agama
yang ada di China agar sejalan dengan ideologi Komunisnya.

Menurut laporan Daily Mail tertanggal 24 Desember 2019, edisi baru kitab suci agama tidak boleh
bertentangan dengan kepercayaan Partai Komunis China. Oleh karenanya, menurut The Sun, China
akan merevisi semua kitab suci, termasuk kitab suci Al- Qur'anul Karim.

China sadar betul bahwa Islam itu selain sebagai agama ritual juga notabenenya adalah sebuah
ideologi. Karakter sebuah ideologi itu memiliki seperangkat aturan kehidupan dan visi kenegaraan
yang akan dibentuknya. Tentunya keberadaan Islam sebagai ideologi jelas bertentangan dengan
Komunisme. Walhasil target revisi terhadap Kitab Al - Qur'an adalah dalam rangka menghilangkan
sisi - sisi ideologis dari ajaran Islam.

China masih ingat betul atas sejarah gentarnya Kekaisaran China di abad 18 M atas laju ekspansi
pasukan Islam di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim. Kaisar China harus rela merendahkan diri
dan kekuasaannya untuk berdamai dengan Islam.

Bahkan ideolog komunisme sendiri yakni Lenin juga sangat takut dengan keKhilafahan umat Islam.
Gerakan pan Islamisme yang menurutnya adalah gerakan umat Islam untuk menentang
imperialisme. Lenin takut bila gerakan global tersebut bisa berpotensi mengakhiri kekejamannya
atas daerah - daerah kekuasaannya. Jadi memang China tidak akan berhenti menggencet Islam yang
memang berpotensi menjadi rival ideologinya.

Adapun penggunaan Kapitalisme untuk kebijakan China keluar guna memuluskan ambisinya sebagai
raksasa ekonomi global khususnya di kawasan Laut China Selatan. Dengan demikian invasi
Kapitalisme global bisa diredamnya. Artinya tidak sampai menjadi tren di dalam negeri. Di samping
itu, China ingin menyediakan tempat baru bagi eksodus penduduknya keluar negeri. Tentunya
setelah China mampu menaklukan negeri yang jadi sasarannya.

Mega proyek OBOR memegang peranan penting di sini. China ingin memegang kendali di kawasan
untuk memenangkan perang dagang dengan AS.

Maka paket OBOR yakni Turnkey Project Manajemen menjadi garansi kuatnya penjajahan China di
negeri kawasan, termasuk di Indonesia. Investasi besar China dalam proyek dalam negeri Indonesia
menghasilkan utang luar negeri yang membengkak dan serbuan TKA dari China.

Sementara itu, guna mengendalikan berbagai gejolak di Indonesia, tentunya China harus bisa
merangkul ormas - ormas Islam yang dominan. Program beasiswa bagi santri Indonesia sejatinya
merupakan strategi China untuk meraih dukungan dari kaum milenial khususnya kalangan santri.
Mereka menjadi lunak terhadap China atas kebijakannya, khususnya terhadap muslim Uighur.

_Kedua_, dari sisi dunia Islam. Sesungguhnya dunia Islam memiliki 3 potensi besar yakni potensi
jumlah penduduk yang besar, potensi kekayaan alam yang besar dan potensi ideologi.

Jumlah penduduk muslim dunia yang cukup besar sangat potensial menjadi kekuatan militer yang
terkuat. Perkirakan saja misal 1 milyar, diambil 1 persennya sebagai militer. Tentu akan didapatkan
jumlah militer dunia Islam sekitar 10 juta pasukan. AS sendiri pun akan kewalahan menghadapi
militer Islam sedemikian. Ditambah lagi dengan potensi SDA yang besar. Jika dunia Islam
mengembargo China, tentunya industri China akan lumpuh.

Oleh karena potensi Islam sebagai ideologi yang dimiliki dunia Islam itulah faktor kuncinya. Maka
bisa dipahami jika China berambisi untuk melakukan program merevisi kitab suci agama, terkhusus
kitab al - Qur'an.

Lantas terbersit satu pertanyaan, apakah model tenggang rasanya China terhadap dunia Islam itu
berupa menghentikan kebijakannya yang represif terhadap Uighur tapi China tetap dengan
ambisinya menjajah negeri - negeri Islam termasuk Indonesia dengan segenap proyek ambisinya?
Justeru China ingin dunia Islam itu dipihaknya dalam menghadapi invasi Kapitalisme global. Akan
tetapi agar dunia Islam mau memihak dirinya, China berusaha untuk menjajahnya baik dari segi
ekonomi maupun ideologis.

Jadi rekonsiliasi yang mestinya diwujudkan antara China dengan dunia Islam adalah dengan
menghentikan kekejamannya kepada muslim Uighur dan menghentikan semua bentuk penjajahan
ekonomi, politik dan ideologinya terhadap dunia Islam. Dunia Islam harus bebas dari semua bentuk
investasi China yang sejatinya adalah penjajahan.

Bentuk rekonsiliasi demikian hanya bisa diwujudkan tatkala dunia Islam memiliki kemandirian dan
keberanian bersatu dalam konsepsi ideologi Islam yang sudah menjadi takdirnya di dunia. Dunia
Islam diharapkan lahir sebagai pembebas dunia dari penjajahan Kapitalisme dan Komunisme yang
rakus. Dunia Islam mempunyai potensi besar menjadi adidaya dunia dengan bentuk
keKhilafahannya.

Ataukah China perlu merasakan semangat juang pasukan Islam untuk kedua kalinya, sebagaimana
China harus merasakan kehinaan di hadapan pasukan keKhilafahan Islam di abad 18 Masehi?

#Penulis tinggal di Malang

[news.beritaislam.org]
Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rekonsiliasi China dengan Islam, Mungkinkah?"

Posting Komentar