Indonesia Darurat Manipulator Agama





Indonesia Darurat Manipulator Agama

Oleh: Sigit Nur Setiyawan, profesional SketsaMultimedia (Multimedia dan Streaming)

Isu radikalisme yang menjadi “tema sentral” opini yang digaungkan oleh pemerintah Jokowi periode kedua menjadi dilematis. Bak mata pedang yang mampu mengiris lawan namun tak segan melukai dirinya sendiri.


Isu radikalisme disadari atau pun tidak justru bertolak belakang dengan program kerja pemerintah yang lain, misalnya investasi. Dengan masifnya isu radikalisme oleh pemerintah, seolah-olah negeri ini bercokol orang-orang radikal yang dianggap sangat berbahaya. Hal ini pula yang membawa keengganan investor untuk “take action” membawa uangnya ke Indonesia. Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak nyaman investasi karena situasi politik yang tidak kondusif.

Besar kemungkinan itu pula yang menjadikan Presiden Jokowi mengganti istilah radikalisme menjadi “manipulator agama”. Istilah ini memang baru dan mungkin original dari pribadi presiden, namun bisa pula dari para “pembisik” di sekitar beliau yang mengingatkan bahaya menggoreng isu radikalisme tak terkendali.

Indonesia Darurat Manipulator Agama


Manipulator dianggap sebagai kata yang mungkin lebih soft untuk investor, namun tetap bisa digunakan sebagai alat gebuk efektif bagi orang orang yang dianggap radikal. Walau kita harus terus mengkritisi batasan-batasan radikal dan tidak itu seperti apa? Ketidakjelasan batasan inilah yang selama ini dimanfaatkan oleh rezim penguasa untuk mengebuk siapa saja yang dirasa perlu untuk digebuk.

Kata manipulator juga harus kita kritisi secara etimologi dan aplikasinya dalam sebuah istilah. Manipulator adalah alat untuk melakukan manipulasi. Artinya dari yang awalnya “A” ketika bersentuhan dengan manipulator bisa menjadi “B”. Artinya manipulator itu juga bisa dimaknai sebagai alat atau sesuatu yang bisa merubah citra baik menjadi buruk atau sebaliknya.

Kalau kita setuju dengan batasan definisi tersebut. Kita harus bertanya kritis kepada pemerintah atau siapa saja yang menjadi pejabat publik di negeri ini. Siapa yang layak menyandang istilah “manipulator” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita?

Oke kita coba menengok kejadian setahun ke belakang. Siapa yang kemarin rajin beribadah? Rajin mengunjungi pesantren? Siapa yang kemarin sering ketemu ulama? Siapa yang kemarin mengatakan ini dan itu namun setelah terpilih menjadi pejabat publik langsung hening dan kebiasaan baik itu tidak berlanjut? Kalau ada di antara kita semua berarti dialah “manipulator” yang sesungguhnya. Dan karena agama yang dijadikan alat untuk manipulasi maka dialah yang pantas menyanding predikat “manipulator agama”. Menjadikan agama sebagai perubah persepsi masyarakat agar mendukungnya, namun setelah menjadi pejabat publik lantas kemudian ditinggalkan begitu saja.

Koruptor itu manipulator ulung. Koruptor adalah orang yang paling pandai melakukan  manipulasi. Kebijakan yang harusnya tidak bisa menjadi bisa karena dimanipulasi. Pejabat tidak lulus seleksi menjadi lulus juga karena manipulasi. Kuota impor yang harusnya sedikit menjadi banyak juga ulah dari manipulasi.

Lebih hebatnya lagi mereka masih berteriak seolah-olah sebagai penjaga negeri paling nomor 1, itu jelas biangnya manipulasi. Berteriak paling cinta Indonesia padahal dia rampok kekayaan Indonesia demi kepentingan pribadi dan kelompoknya itu juga biangnya manipulasi. Maka orang yang berprilaku demikian layak disebut “manipulator agama” paling juara.

Negeri ini disadari ataupun tidak memang sedang mengalami darurat manipulator agama. Dalam artian agama hanya dijadikan alat kepentingan sesaat untuk meraih dukungan umat. Setelah itu umat dicampakkan begitu saja tanpa melihat bagaimana pengorbanan umat untuknya.

Jangan serahkan negeri ini kepada para “manipulator agama”. Karena itu sangat berbahaya!!![]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Indonesia Darurat Manipulator Agama"

Posting Komentar