Hukum Sholat Jum'at Khutbahnya Tidak Baca Sholawat Seperti Kasus Menag





menag khutbah di istiqlal

KH Miftah el-Banjary

Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Alqur'an

Ramai di media sosial terkait khutbah Menteri Agama (Menag) yang tidak membaca salawat saat menjadi khatib di Masjid Istiqlal (1/11/2019). Beliau melewatkan ucapan salawat pada muqadimah khutbahnya. Bagaimana hukumnya dalam pandangan syariat?


Saya ditanya banyak orang terkait perihal itu. Setelah saya amati dan analisa video khutbah yang viral di Youtube itu, saya berpandangan ada beberapa kekeliruan dilakukan Pak Menag terkait hukum rukun khutbah tersebut.

Pertama, beliau tidak sempurna mengucapkan kalimat hamdalah (pelafalannya tidak fasih, mungkin terlalu cepat dan tidak mutqin). Kedua, beliau melewatkan kalimat shalawat untuk Nabi setelag ucapan hamdalah tersebut.

Saya menuliskan pandangan saya ini, bukan bermaksud membeberkan kekeliruan seseorang, namun semata untuk bertabayun sekaligus meluruskan berdasarkan pandangan para ulama madzhab terkait persoalan ini.

Berikut pandangan para ulama Mazhab Syafiiyah terkait seorang khatib yang tidak menyertakan shalawat pada muqadimah khutbahnya?

Menurut Imam Nawawi di dalam kitab Matan al-Minhaj halaman 64:

وأركانها خمسة: حمد لله تعالى، والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولفظهما متعين...

"Dan rukun khutbah itu ada lima, di antaranya: mengucapkan lafadz Hamdalah dan salawat kepada Rasulullah SAW. Dan lafadz keduanya sudah ditentukan.."

Dalam pengertian ini, apabila salah seorang khatib ketinggalan/terlewatkan membaca hamdalah dan salawat, maka rukun khutbahnya tidak terpenuhi alias tidak sah.

Mensyarahkan penjelasan ini, Imam Muhammad Zuhri al-Ghamrawy di dalam Kitab "As-Siraj al-Wahhaj" menuliskan: "فلا يجزى الشكر والثناء" yang maksudnya tidak cukup atau tidak terpenuhinya rukun khutbah, jika hanya dalam bentuk ucapan syukur dan pujian semata, tanpa disertai ucapan salawat Nabi, maka hukumnya 'tidak sah rukun khutbahnya".

Bagaimana hukum jika khatib tidak sempurna atau tidak fasih dalam pengucapan hamdalah seakan tidak terdengar jelas atau tidak diketahui jelas adakah disertakan lafadz Allah atau tidak?

Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi di dalam kitab "Hawasyi al-Madaniyyah" halaman 62 menjawab sebagai berikut:

ويشترط كونه بلفظ الله ولفظ حمد وما اشتق منه كالحمد لله أو أحمد الله أو لله أحمد أو لله الحمد أو أنا حامد الله.
فخرج الحمد الله "الحمد للرحمن" والشكر لله ونحوهما فلا يكفي.

"... dan disyaratkan lafadz ucapan hamdalah itu harus disertai lafadz Allah, baik dalam bentuk jadian kata, seperti: Alhamdulillah, Ahmadulllah, Lillahi Ahmad, Lilllah alhamd, atau Ana Haamidullah. Namun, tidak cukup jika hanya mengucapkan "Alhamdu lil Rahman" atau "As-Syukr lillah" saja, (Hamdalah tanpa disertai lafadz Allah), maka tidak cukup (Tidak Sah).

Imam Syamsudin Khatib as-Syarbaini di dalam Kitab 'Mughni al-Muhtaaj' juz 1 halaman 627 pada bab 'Shalat al-Jum'ah' juga berpendapat hal yang serupa:

ويتعين لفظ ((الله)) فلا يجزى ((الحمد للرحمن)) أو ((الرحيم)) كما نقله الرفعي مقتضى كلام الغزالي.

"Lafadz Hamdalah harus disertai dengan lafadz 'Allah' dan tidak mencukupi atau tidak sempurna hanya dengan lafadz 'Alhamdu lil Rahman' atau 'Alhamdu ar-Rahiim', sebagaimana yang dikutip oleh Imam ar-Rafie dari perkataan Imam al-Ghazali.."

Menurut analisa saya, Bapak Menag agaknya kurang fasih dalam pengucapan hamdalah, sehingga terdengar agak janggal. Sebab isim mausul (الذي) yang diucapkan setelah lafadz Alhamdulillah, tidak diucapkan secara sempurna.

Maka yang terdengar, beliau mengucapkan (الحمد لله للذي) "Alhamdulillah Lilladzi" seharusnya (الحمد لله الذي) Alhamdulillahilladzi, bukan Alhamdulillah Lilla Dzi (ada satu huruf alif yang hilang dan berganti pada pengucapannya huruf lam pada isim Mausul الذي). Sehingga lafadznya terdengar janggal dan tidak sempurna di pendengaran mereka yang paham dan mengerti betul bahasa Arab.

Jadi dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa jika ucapan Hamdalah yang tidak disempurnakan ucapannya, sehingga terdengar tidak jelas, samar, apalagi ketinggalan lafadz tersebut, maka rukun khutbahnya sangat berpotensi tidak sempurna alias "Tidak Sah".

Selanjutnya, bagaimana hukum seorang khatib yang ketinggalan mengucapkan salawat pada khutbah Jumat, berikut pandangan ulama dalam mazhab Syafi'i.

Dalam kitab Fiqh "Hasyiah Syekh Ibrahim al-Baijury" yang disyarah oleh Allamah Qasim Ghazi juz 1 pada halaman 323:

"..تشتمل على الأركان ما عدا الصلاة لعدم آية تشتمل عليها لم تكف لأنها لا تسمى خطبة..."

"...semua rukun (khutbah) selain salawat tidak (boleh) ditiadakan ucapannya meskipun terdapat dalam ayat Alqur'an, dan hal itu tidak memadai dan tidak pula dinamakan khutbah (Jum'at).."

Pada kitab tersebut dijelaskan sebelumnya, sekiranya ada satu ayat Alqur'an yang diucapkan sebagai pengganti hamdalah, seperti lafadz:


ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَۖ ثُمَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمۡ یَعۡدِلُونَ

Maka sudah cukup memenuhi rukun khutbah pertama, yaitu kewajiban mengucapkan "Hamdalah". Namun, tidak dengan posisi salawat.
Posisi salawat menempati bagian khusus yang tidak bisa digantikan dengan ayat dan harus diucapkan dengan lafadz tertentu, sekurang-kurangnya ucapan lafadz:

اللهم صلى على سيدنا محمد

Nah, jika ucapan shalawat itu tidak diucapkan secara sempurna, misalnya:

صلوا على النبي

Maka juga tidak memenuhi rukun khutbah.

Lebih-lebih, jika memang dilewatkan dan tidak diucapkan sama sekali, maka hukumnya jelas "Tidak Sah".

Maka yang menjadi sorotan dalam persoalan ini, sekali lagi terkait soal ucapan salawat pada muqadimah khutbah Jum'at. Soal nanti ada shighat di akhir khutbah atau pada khutbah kedua, itu lain lagi bab persoalannya.

Yang jelas, seluruh ulama mazhab Syafii menyepakati bahwa salawat merupakan rukun khutbah yang sangat penting menentukan rukun khutbah, sah dan tidaknya shalat Jum'at, itu persoalan pada awal pembuka khutbah.

Kesimpulannya, ada dua hal yang tidak atau kurang terpenuhi terkait hukum dan rukun khutbah jum'at pada kasus di atas.

Pertama, beliau tidak sempurna mengucapkan Hamdalah, mungkin masih bisa disempurnakan lagi. Kedua, jika beliau memang benar tidak menyertakan salawat Nabi SAW, maka sangat berpotensi tidak sah menurut hukum Fiqh. Ketinggalan salawat pada rukun khutbah, bagian ini fatal menurut pandangan para ulama Fiqh, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Sedangkan kedua sighat atau ucapan hamdalah dan salawat tersebut secara hukum Syariah Fiqhiyyah menjadi rukun khutbah penentu sah dan tidaknya Khutbah Jum'at, pada saat yang sama juga penentu sah dan tidaknya Salat Jum'at.

Semoga dengan terlupakannya salawat tidak sampai pada hadits Rasulullah SAW:

من نسي الصلاة علي نسي طريقا إلى الجنة
"Barangsiapa yang lupa bersalawat padaku, maka dia akan terlupa jalan menuju surga."

Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak tampil mengimami soal ubudiyyah kaum muslimin, jika memang bukan ahli dan belum mengerti tentang hukum syariahnya secara sempurna. Wallahu A'lam.

Referensi:
1. السراج الوهاج على متن المنهاج للإمام النووي
2. مغنى المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج للشيخ شمس الدين محمد الخطيب الشربيني
3. الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع للشيخ شمس الدين محمد خطيب الشربيني
4. حاشية الشيخ إبراهيم اليجوري على شرح العلامة قاسم الغزي.
5. حواشي المدانية للعلامة الشيخ محمد بن سليمان الكردي
6. التنبيه في الفقه الشافعي لأبي إسحاق إبراهيم بن علي الشيرازي الفيروزبادي.

Berikut cuplikan video khutbah Jumat Menag di Masjid Istiqlal 1 November 2019 yang diunggah akun Youtube @dosen favorit. Bisa di lihat di sini

[sindo/beritaislam.org]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Sholat Jum'at Khutbahnya Tidak Baca Sholawat Seperti Kasus Menag"

Posting Komentar