Bom Medan, Jika tak Dikontrol Imbasnya Kohesi Sosial Akan Rusak dan Saling Curiga





Bom Medan

Oleh : Nasrudin Joha 

Saya agak miris dengan nalar kritis media yang bersuara 'koor' terkait sejumlah peristiwa teror di negeri ini, tak terkecuali bom Medan. Seluruh media menyebut bom di Medan sebagai bom bunuh diri.

Aneh, meskipun jika ungkapan 'Bom Bunuh Diri' ini berasal dari aparat, tidak wajib bagi media menuliskan judul atau rilis berita tanpa sikap kritis, kecuali jika media menjadi bagian dari skenario. Penyebutan 'Bom Medan' dengan 'Bom Bunuh Diri' itu memiliki implikasi yang sangat jauh beda.


Bom Bunuh Diri adalah peristiwa pengeboman yang dilakukan secara sadar oleh pelakunya, untuk merealisir target tertentu. Ada dua unsur penting dalam peristiwa bom bunuh diri.

Pertama, kesadaran pelaku atas adanya bom dalam kendali dirinya baik bom itu dia ciptakan (racik) sendiri atau bom itu dia peroleh dari pihak lainnya.

Kedua, adanya kesadaran akan tujuan pengeboman, sekaligus konsekuensi dirinya ikut terbunuh dalam pengeboman.

Dalam peristiwa bom Medan, kronologis singkatnya diperoleh informasi sebagai berikut :

Ledakan bom yang terjadi pukul 08.45 WIB itu diduga berasal dari pria yang menggunakan atribut ojek online. Pria itu tampak berjalan di lapangan parkir sebelum bom yang diduga dibawanya meledak. Usai ledakan terjadi, jalan sekitar Polrestabes Medan ditutup.

Terduga pelaku bom hanya satu orang dan langsung tewas di lokasi. Polisi langsung melakukan olah TKP di lokasi ledakan. Olah TKP dilakukan untuk mengetahui identitas dan juga jenis bahan peledak yang digunakan pelaku.

Polisi menyebut orang yang dicurigai sebagai terduga pelaku bom bunuh diri sempat ditanyai oleh petugas sebelum masuk ke Polrestabes Medan. Menurut polisi, terduga bomber mengaku hendak mengurus SKCK.

Pelaku yang menggunakan atribut ojek online dan mengaku hendak mengurus SKCK sempat digeledah polisi sebelum masuk Polrestabes Medan. Penggeledahan dilakukan karena gerak-gerik mencurigakan. Saat itu, polisi meminta terduga pelaku membuka jaket dan tas ranselnya. Tak ditemukan benda mencurigakan sehingga pria itu masuk ke dalam lingkungan Polrestabes.

Polisi bergerak cepat mengungkap identitas pelaku yang diketahui bernama Rabbial Muslim Nasution (RMN). Pengungkapan identitas itu dilakukan lewat pemeriksaan sidik jari yang dicocokkan dengan data di Dukcapil. Rabbial berusia 24 tahun dan berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.

Selain Rabbial sebagai terduga pelaku yang tewas, ada enam orang lainnya yang menjadi korban luka. Lima korban luka dari personel Polri dan satu orang sipil. Selain itu, ada 4 kendaraan yang rusak.

Polisi juga langsung menggeledah rumah terduga pelaku bom di Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution, yang beralamat di Jalan Jangka. Belum diketahui apa saja yang disita dari penggeledahan itu.

Olah TKP yang dilakukan di lokasi bom bunuh diri di Polrestabes Medan usai. Polisi mengamankan sejumlah material seperti pelat besi, paku berbagai ukuran, hingga baterai. Polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis bom.

Rabbial Muslim Nasution yang merupakan terduga pelaku bom di Polrestabes Medan disebut mengenakan jaket ojek online saat beraksi. Polri menyatakan jaket ojol yang digunakan Rabbial hanya untuk penyamaran saat beraksi.

Polisi mengatakan Rabbial diduga beraksi sendirian alias lone wolf. Meski demikian, polisi tetap melacak ada-tidaknya jaringan Rabbial. Menurut polisi, Rabbial aktif di media sosial.

Polisi masih mendalami jenis bom yang digunakan dalam aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Terduga pelaku, Rabbial Muslim Nasution, diduga melilitkan bom itu di tubuhnya.

Dari kronologis diatas, darimana diperoleh fakta yang menjadi dasar kesimpulan bahwa peristiwa bom di Medan adalah bom bunuh diri ? Apakah fakta adanya dugaan bom dililitkan ditubuh pelaku bisa menjadi dasar legitimasi bahwa pelaku bunuh diri ?

Bagaimana jika pelaku diancam pihak lain ? Dipaksa untuk membawa lilitan yang diduga bom itu ke Mapolrestabes Medan ? Sementara kontrol detonator bom ada pada pihak lain ?

Bagaimana jika pelaku sendiri tidak menyadari adanya bom pada lilitan ditubuhnya ? Itu dianggap barang lain dan bukan bom ?

Darimana dasar menyimpulkan peristiwa bom Medan adalah bom bunuh diri sementara tak ada kesadaran dari pelaku atas adanya bom dan tak ada kesadaran dari pelaku untuk secara sengaja meledakkan bom itu ?

Pada umumnya, bom bunuh diri itu hanya bisa disimpulkan melalui pengakuan atau kesaksian.

Pengakuan dari pelaku langsung, biasanya dilakukan sebelum melakukan aksi bom bunuh diri baik melalui surat, video atau saluran rekaman telepon, bahkan di era sosmed bisa diketahui melalui status sosmed pelaku.

Kesaksian, berasal dari teman atau rekan sejawat dari pelaku yang memang memiliki visi misi yang sama. Dalam dunia terorisme, kesaksian itu biasanya berasal dari pernyataan resmi anggota mafia (kelompok teroris) yang mengakui ledakan itu dilakukan oleh anggota gengnya, dan menyebut itu sebagai bom bunuh diri sekaligus menyebut motif dan tujuan bom bunuh diri.

Dalam peristiwa bom Medan ini pelaku bertindak sendiri, dan tewas seketika di lokasi. Belum sempat di BAP polisi atau dimintai keterangannya, apakah benar dirinya melakukan aksi bom bunuh diri. Selain bertindak sendiri, juga tidak diketahui pernyataan resmi dari kelompok pelaku yang menyebut bertanggungjawab atas tindakan pelaku sekaligus menyebut motif dan tujuan bom bunuh diri.

Lantas, darimana dasarnya media secara latah menyebut bom Medan sebagai bom bunuh diri ? Apakah wartawan sempat mewawancarai pelaku ? Atau bertemu dengan kelompok geng yang menugaskan pelaku sehingga dapat informasi bahwa aksi bom Medan adalah bom bunuh diri ?

Penyebutan 'Bom Bunuh Diri' ini sangat tendensius, dan dapat berpotensi menjadi media antara untuk membuat cerita-cerita khayalan selanjutnya. Belum lagi dari polisi menyebut jaringannya, GP Ansor mulai mengarang indah.

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor langsung mengaitkan aksi bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu, dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) atau ISIS yang dituding ingin balas dendam atas tewasnya pemimpin ISIS Abu Bkar Al Baghdadi.

Ketua Kajian Stretegis PP GP Ansor Mohamad Nuruzzaman dalam keterangannya menjelaskan dugaan ISIS sebagai dalang pengeboman di Medan didasari oleh fakta bahwa sebenarnya sel jaringan pengikut ISIS tengah mati atau terputus. Komunikasi antarpengikut dilakukan hanya melalui media sosial. Namun kematian Al Baghdadi diduga memicu amarah para pengikut ISIS, dan kemudian melakukan upaya balas dendam dengan melancarkan aksi bom bunuh diri.

Pertanyaannya, darimana dasar hubungan bom Medan dengan ISIS dan JAD ? Wong polisi yang memeriksa saja belum sampai begitu jauh membuat pernyataan. Apakah Ansor telah lebih dahulu melakukan penyelidikan fakta sebelum TKP diolah oleh polisi ?

Adanya peristiwa bom di Mapolresta Medan kita semua sepakat mengutuk keras perbuatan biadab itu sekaligus menyayangkan kenapa peristiwa ini bisa terjadi di area simbol keamanan negara. Namun, mengklasifikasi bom sebagai bom bunuh diri apalagi langsung dikaitkan dengan ISIS dan JAD, adalah kesimpulan prematur yang cenderung menjadi jembatan antara untuk menyebarkan praduga.

Jika tidak dikontrol publik, isu ini akan merembet ke isu radikalisme, itu Islam garis keras, dan imbasnya kohesi sosial akan rusak karena adanya praduga dan saling curiga. Kita mendorong kepolisian mengusut tuntas perkara ini dan hanya mengeluarkan statement berdasarkan fakta, tidak boleh asumsi. Sementara unsur diluar kepolisian, sebaiknya menahan diri agar tidak terlalu berkomentar jauh.

Mengajukan proposal boleh saja, tapi caranya jangan kasar. Mudah sekalian membongkar motif dibalik peristiwa, jika akting dan skenario tidak dilakukan secara sempurna. Cari makan ya cari makan, tapi kalau menjilat jangan segitunya. [].

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bom Medan, Jika tak Dikontrol Imbasnya Kohesi Sosial Akan Rusak dan Saling Curiga"

Posting Komentar