Golkar Melupakan Kekejaman Komunis?





PKI Komunis Lubang Buaya
Ilustrasi Kebiadaban PKI moseum Lubang Buaya
Oleh : Nasrudin Joha 

Nampaknya, saat Golkar bersama Soeharto berkuasa dan merasakan langsung bagaimana kekejaman komunis, saat itu Golkar lupa menggunakan jas merah. Sehingga, hari ini Golkar melupakan sejarah kekejaman dan kekejian komunisme PKI.


Padahal, hingga saat ini masih banyak tulisan viral yang menggambarkan betapa bengisnya komunisme PKI membantai para jenderal, ulama dan umat Islam. Berdalih misi pembangunan dan kesejahteraan, Golkar begitu hangat menjalin persahabatan dengan Partai Komunis China (PKC).

Sementara itu, barisan kaum tua Golkar yang dahulu mengalami sejarah pembantaian PKI, juga bungkam. Mereka, ijma' dengan kebijakan Airlangga yang menjalin hubungan spesial dengan PKC. Bahkan, hubungan itu dimaintenance dengan baik. Setiap tahun, Golkar mengirim kader ke China untuk menjalani 'indoktrinsi komunis china' bertopeng visi membangun dan Mensejahterakan rakyat.

Pelan-pelan, namun sangat pasti suara rakyat Golkar tak lagi merepresentasikan nilai kebangsaan, nilai ke-Indonesia-an. Suara Golkar, perlahan menuju universalisme sosialisme, universalisme komunisme. Setelah adagium suara Golkar suara koruptor, sebentar lagi akan masif teriakan 'suara Golkar suara komunisme'.

Golkar saling kirim kader ke partai komunis


Golkar tak lagi mengindahkan, sejumlah kebijakan peraturan perundang undangan yang tegas mengharamkan ideologi komunisme di negeri ini. Tap MPRS No. XXV/1966, pasal 107 e uu No. 27 tahun 1999, diabaikan Golkar.

Golkar telah mengabaikan sejumlah darah yang tercecer, nyawa pahlawan revolusi. Jend A Yani dkk, tak lagi menjadi pertimbangan Golkar untuk membuat kebijakan partai dalam menjalin hubungan dan kerjasama.

Golkar juga malah ikut-ikutan latah, selain menjalin kerjasama dengan partai berhaluan komunisme, Golkar juga ikut menyerang ajaran Islam khilafah. Golkar, yang termasuk ikut merestui Perppu ormas yang dijadikan dalih untuk menuding khilafah, sebagai ajaran yang bertentangan dg Pancasila dan UUD 45.

Akibat dukungan ini, ketua umum Golkar dan Sekjen Golkar, Setya Novanto dan Idrus Marham, kualat dan masuk bui karena kasus korupsi. Namun Golkar, nampaknya tidak menjadikan ini sebagai pelajaran.

Airlangga, justru dengan bangga memproklamirkan kerja sama dengan partai berideologi komunisme, ideologi yang jelas dilarang di negeri ini. Tidak cukup disitu, Golkar juga menyampaikan komitmen untuk menjaga kerjasama dengan mengirim kader minimal lima orang dalam setahun sekali.

Semua berpulang kepada rakyat, apakah akan tetap memilih Golkar yang sudah mulai bergeser ke haluan komunisme ? Apakah masih percaya dengan slogan suara Golkar suara rakyat ? Atau segera mengevaluasi dukungan kepada Golkar, jika Golkar tidak segera mengevaluasi kerjasama dengan Partai Komunis China.

Saya kira, saatnya rakyat membuat keputusan sendiri, tanpa menunggu partai membuat keputusan manipulatif untuk merayu rakyat. Suara Golkar terserah, mau suara rakyat, mau suara maling, mau suara koruptor, mau suara komunis, terserah saja, itu hak Golkar. [].

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Golkar Melupakan Kekejaman Komunis?"

Posting Komentar