Sesat Pikir akan Melanda Perguruan Tinggi





Perguruan Tinggi

Oleh : Fauziyah Ali

Suasana kampus tempoe doeloe (tapi nggak dulu-dulu banget ya) itu adem ayem. Diadem-adem, diayem-ayem. Para mahasiswa yang duitnya 'dikit', PD aja kuliah. Bismillah, cari ilmu biar pinter. Bukankah orang berilmu itu derajatnya tinggi. 'Iyo pora?'


Tapi akhir-akhir ini koq saya merasa rada-rada 'mbuh' ya sama situasi kampus. Katanya, mahasiswa kalau kritis sedikit, taruhannya ijazah. Sudahlah masuk kuliah susah, biayanya tinggi jadi akses kuliah untuk anak bangsa semakin sedikit, eh, si mahasiswa yang sudah jadi tambah pinter karena belajar di perguruan tinggi malah dibungkam.

Hawa dunia persilatan kampus juga dihembuskan tentang bahaya ide radikalisme. Padahal yang disebut radikalisme itu juga paling tidak tahu menahu? Saya berani jamin misalnya, ribuan mahasiswa baru yang bakal ikut dicatat nomer hp dan akun medsosnya banyak yang tidak paham tuduhan kemenrisdikti atas ide radikalisme yang dimaksud. Pan kan suka tuduh begitu mah, ya tinggal tuduh aja.

Lagian sampe segitunya, kemenristekdikti akan mendata akun medsos dosen, pegawai, dan mahasiswa pada tahun kalender 2019/2020. Katanya sih untuk menjaga penyebaran radikalisme dan intolarensi. Kenapa sih? Takutnya, sampe segitunya?

Anehnya kalau untuk ide marxisme boleh katanya, silakan. Tapi untuk cari sisi buruknya. Gitu katanya. Eh, bisa-bisanya ya ide Marxisme yang jelas-jelas ada aturan pelarangannya pada TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966  malah dibolehin untuk dikaji. Padahal seperti yang ada pada UU No : 27 Tahun 1999 bahwa siapa saja yang melakukan upaya dengan lisan dan tulisan maupun media mengembangkan ajaran Marxisme, komunisme, Leninisme akan dihukum paling lama 20 tahun penjara. Nah, anehnys kalau mengkaji ide Islam seperti khilafah dituduh malah radikalisme. Walaupun radikalisme di kampus itu sebenarnya belum ditemukan faktanya.

Selain ide marxisme, lg*t juga boleh dikaji. Saya sih ngebayangin aja, yang diskusi pasti ada banyak dari kalangan lg*t jadi semakin masif dong penyebaran lg*t di perguruan tinggi. Kan bahaya tuh.

Ini yang dinamakan sesat pikir akan melanda perguruan tinggi. Untuk meredam satu ide yang dianggap berbahaya bagi kepentingan kapitalis, malah jadi sembrono aja membolehkan pengkajian marxisme dan lg*t di kampus padahal ini jelas-jelas bertentangan dengan undang-undang yang berlaku di negeri ini.

Lagian pengkotak-kotakan Islam itu settingan barat tahu! Jadi macam radikalisme, Islam Nusantara, Islam Moderat, bahkan Islam Liberal itu barat yang membuat untuk mendistorsi Islam yang sejati. Ya kan kalau Islam mah ya Islam aja satu kan! Islam yang sejati, yang kaffah, yang jika diterapkan dalam naungan khilafah akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Betul tidak???

Wallahu 'alam bisshowab.[]

Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sesat Pikir akan Melanda Perguruan Tinggi"

Posting Komentar