TAKBIR, BUKAN "TAKE BEER"





TAKBIR, BUKAN "TAKE BEER"

Beritaislam - TAKBIR, BUKAN "TAKE BEER"

Ada dua sikap yang tidak atau kurang tepat terkait kalimat takbir. Yang pertama, mengucapkan takbir pada tempat yang tak seharusnya. Misal saat mendengarkan materi ceramah yang isinya hanya marah-marah atau maki-maki atau berisi hoax, diiringi dengan pekikan takbir berulang kali.

Ini merendahkan kalimah thayyibah tersebut, dan membuat kesan seakan dakwah Islam isinya hanya maki-maki dan penyebaran hoax. Lebih parah lagi, jika takbir dipekikkan berulang-ulang, padahal yang "ceramah" adalah non-muslim semisal Rocky Gerung.

Yang kedua, biasanya adalah pihak yang memposisikan diri bertolak belakang 180 derajat dari pihak pertama. Namun karena tidak bersikap inshaf, dan terbiasa di lingkungannya mencandakan hal-hal yang sensitif, termasuk terkait agama, akhirnya jatuh pada sikap ekstrim, bahkan lebih parah dari pihak pertama.

Ungkapan-ungkapan hinaan seperti monaslimin dan semisalnya begitu ringan keluar dari lisan dan tulisan mereka. Termasuk olok-olok terhadap kalimat takbir, dengan menyebut atau menulisnya dengan "take beer". Biasanya ini disebabkan hilangnya sikap adil, mudah merendahkan pihak lain, dan bisa jadi menganggap kebenaran hanya ada pada mereka, yang lain tidak paham agama sama sekali dan salah total.

Alih-alih meluruskan kesalahan pihak pertama dengan cara yang baik, yang ada malah mencandakannya secara berlebih-lebihan, yang membuat mereka jatuh pada kesalahan yang lebih berat.

Wallahul musta'an.

Ustadz Muhammad Abduh Negara

------------------------------------------------------

Orang Kafir Mengolok-olok Islam di Zaman Nabi


Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ada yang memplesetkan kata “raa’inaa” menjadi “ru’uunah”
.
“Raa’inaa artinya “kamu memperhatikan kami” diplesetkan menjadi makna buruk yaitu “ru’uunah” yang artinya sangat dungu atau tolol
.
Oleh karena itu, kaum muslimin diperintahkan mengganti kata “raa’inaa” menjadi “undzurnaa”. Kisah ini diabadikan dalam Q.S Al Baqarah ayat 104
.
Kemudian orang yahudi juga memplesetkan ucapan Salam. Rasulullah bersabda “Orang Yahudi apabila mengucapkan salam dan mengucapkan as-saamu ‘alaikum (semoga kematian menimpamu), maka jawablah Wa’alaikum’ (dan demikian juga bagimu)” (HR. Muslim)
.
Pun Bani Israil yang memplesetkan menjadi “sami’naa wa ‘ashainaa” (kami dengar tapi kami tidak taat), seharusnya “sami’naa wa ‘atha’naa” (kami dengar dan kami taat)
.
Sungguh memplesetkan dalam hal ini termasuk mengolok-olok agama. Dan inilah ancaman dari Allah bagi pelakunya:
.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (Q.S At Taubah : 65-66)
.
“Mengolok-olok dalam agama, ayat Al-Quran dan Rasul-Nya termasuk kekafiran yang bisa mengeluarkam dari Islam, karena agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, agama dan Rasul-Nya.” [Tafsir As-Sa’diy]

[news.beritaislam.org]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TAKBIR, BUKAN "TAKE BEER""

Posting Komentar