Rakyat Dipalak bak Sapi Perah, Rezim Belajar dari Preman Pasar?





Preman Pasar Palak Truk
Ilustrasi Preman Pasar Palak Truk


Oleh : Uda Al Faruq

Disuatu kota tampaklah preman berjejer memantau beberapa sopir mobil agar setiap sopir mobil yang didekatinya memberikan beberapa receh rupiah, dua tiga mobil yang dipalakinya terkesan masih rupiah receh, setelah dihitung-hitung perjam, perhari, perbulan dan pertahun uang receh itu ternyata bisa menjadi miliaran kalau terus digasak.


Lain tempat lain pula caranya, bahkan ada dengan membekali para sopir dengan air mineral dan tissue agar pemalakanya tidak terkesan terlalu memaksa, itu sih kedok manusia preman gerutu sopir.

Preman itu kini telah beralih kerezim dan kaki tangannya, wilayah rampasannya luas ditambah pula cara pemalakannya terkesan legal dan lebih terukur dan terpercaya.

Bagaimana tidak, kini memakai dengan memakai tangan preman dan baju rompi yang tertulis dibelakang punggung para juru parkir resmi.

Uang dua ribu dan lima ribuan mampu mengalahkan jumlah pajak yang ditarik dari setiap parkiran yang ditarik oleh kaki tangan rezim, apa yang bisa dibuat, masyarakat seolah tidak lagi mempersoalkan biaya parkir, karena toh sudah dianggap menyumbang kenegara.

Setelah dipikir-pikir, tahu dan mengertilah kita, kalau negeri ini dikelola manusia lapar dan buas, rakyatnya dipalak dimana-mana dan dengan berbagai cara.

Tidak penting bagi mereka itu sedikit atau banyak, memberatkan atau tidak, yang negara dapat tambahan uang pendapatan, disinilah kita paham, kalau ini negeri dipimpin dan diatur dengan rezim dan sistem preman.

Semuanya semau gue dan terserah gue, kalau tidak setuju, silahkan hengkang dinegeri ini, kata ini seperti sudah menjadi mantra sakti mandraguna, bentuk ajian pamungkas.

Kini rakyat, terus gigit jari dalam kesusahan yang bertambah-tambah, negeri ini hamil dan buncit oleh manusia-manusia rakus.

Tekanan hidup makin berat, pengkritik penguasa dibungkam dan dicela dimana-mana, sementara buzzer bayaran mereka hidup dan pergi kemana-kemana.

Rakyat diminta jadi sapi perahan untuk lima tahun lagi yang akan datang dan terus entah sampai kapan. Mungkin bila sudah tidak tiba saatnya mahasiswa diundang ke istana, maka malam dan diancam do oleh universitas dimana mereka kuliah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rakyat Dipalak bak Sapi Perah, Rezim Belajar dari Preman Pasar?"

Posting Komentar