Memaknai Kematian Seorang Pemimpin Negara, (Kematian adalah Nasehat Terbaik)

Pak habibie wafat

Oleh: Ahmad Sastra

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu….
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada menjadi tiada pada akhirnya…
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti…
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu…
[Bait Puisi Habibie untuk Istrinya, Ainun]


Ada sehat, ada pula sakit. Ada sengsara, ada pula bahagia. Begitupun ada kehidupan, ada pula kematian. Keduanya adalah peristiwa biasa yang pasti ada di dunia. Bahkan setiap hari ada manusia yang mati, sebab memang merupakan peristiwa yang biasa.

Bisa jadi saat Habibie meninggal, di hari itu ada juga rakyat jelata yang meninggal. Kematian Habibie menjadi berita disebabkan karena dia adalah seorang kepala negara, itu saja. Meskipun ujung dari kematian bukan soal jabatan, tapi soal  keimanan dan amal perbuatan.

Ucapan bela sungkawa “innalillahi wa inna ilahi rojiun” meluncur deras dari berbagai pihak mengiringi kematian presiden ke 3 Republik Indonesia, Bapak BJ Habibie. Beberapa televisi menyiarkan langsung berjam-jam, bahkan hampir semua media cetak hari ini (Kamis,12/09/19) mengangkat berita meninggalnya Habibie sebagai headline/berita utama.

Kematian adalah bagian dari musibah yang menimpa manusia, hal ini sejalan dengan firman Allah. “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS Al Baqarah : 155-156)

Ucapan bela sungkawa atas kematian disebut kalimat istirjaa. Artinya sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, termasuk di dalamnya peristiwa kematian.

Kalimat istirjaa lebih penting dibandingkan kematian itu sendiri. Sebab kematian adalah peristiwa biasa, namun setelah mati bagaimana nasibnya, itu yang lebih penting. Kalimat istirjaa memberikan pesan fundamental tentang simpul utama ('uqdatul qubro) yang harus dijawab, yakni 'dari mana asal manusia, untuk apa manusia hidup di dunia dan hendak kemana setelah mati'. Jawaban ketiganya sangat terkait dengan aqidah dan ideologi.

Pertama, dari mana asal manusia.

Seorang muslim akan menjawab dengan jelas, bahwa asal manusia adalah dari Allah Yang Maha Pencipta (QS Ar Rahman : 2). Orang komunis ateis akan menjawab bahwa manusia berasal dari materi melalui peristiwa evolusi.  Sementara orang kapitalis sekuler akan menjawab bahwa manusia berasal dari tuhan.

Kedua, untuk apa hidup di dunia.

Seorang muslim adakan menjawab dengan tegas bahwa hidup di dunia untuk ibadah (QS Adz Dzaariyat : 56). Orang berideologi komunisme ateis akan menjawab bahwa hidup di dunia untuk mencari materi duniawi semata (materialisme). Sementara orang berideologi kapitalisme sekuler akan menjawab bahwa hidup di dunia untuk mencari materi duniawi.

Ketiga, hendak kemana setelah mati.

Seorang muslim akan menjawab dengan tegas bahwa ujung dari kehidupan manusia adalah kembali Allah di alam akherat (QS Yasiin : 83). Orang komunis ateis akan menjawab bahwa ujung dari kehidupan manusia adalah menjadi tanah (materi) saat mati dan dikubur, sebab mereka tidak percaya alam akherat. Sementara ideologi kapitalisme sekuler tidak terlalu peduli kemana manusia setelah mati, sebab mereka menganggap agama sebagai urusan individu.

Dari ketiga simpul utama itulah akan melahirkan sebuah tata hidup dan tolok ukur perbuatan di dunia. Seorang muslim adalah yang percaya kepada Allah dan menerapkan syariahNya dalam kehidupan. Seorang komunis tidak percaya tuhan dan tidak menerapkan aturan tuhan. Sementara orang sekuler percaya tuhan tapi tidak menerapkan aturanNya, sebab mereka memisahkan antara agama dan kehidupan (fashluddin ‘anil hayah)

Karena itu kematian dalam ajaran Islam adalah nasehat terbaik untuk manusia. Sebab kematian bukan soal peristiwanya, tapi soal perbuatan saat hidup dan nasibnya setelah kematian di hadapan pengadilan Allah. Hanya ada dua tempat yang akan menjadi tempat tinggal abadi manusia di akherat, yakni surga atau neraka.

Saat manusia menjadikan dunia sebagai lahan untuk ibadah dalam arti tunduk dan patuh kepada syariahNya dalam semua aspek kehidupan, maka surgalah imbalannya. Sebaliknya, jika hidup di dunia hanya untuk mencari materi dan mengabaikan hukum Allah dan bahkan tidak percaya akan adanya Allah, maka nerakalah tempat akhirnya.

Kebetulan saat iklan breaking news meninggalnya BJ Habibie, saya juga nonton GTV yang kebetulan menayangkan film berjudul 'Exodus : God and King'. Film ini mengisahkan tentang pertarungan antara Musa dan Fir’aun. Musa mewakili muslim dan mukmin, sementara raja Fir’aun mewakili ateis kafir yang tidak percaya tuhan, bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan. Ujung film itu adalah kematian tragis Fir’aun yang dilumat gelombang laut karena kesombongan dan kekufurannya.

Bekal terbaik saat mati adalah kemusliman dan kemukminan, bukan gelar-gelar duniawi. Soekarno disebut sebagai bapak ploklamator. Soeharto dikenang sebagai bapak pembangunan. Gus Dur dijuluki sebagai bapak pluralisme. Sementara Habibie dinobatkan sebagai bapak demokrasi. Gelar itu diberikan oleh orang lain kepada kepala negara yang telah tutup usia. Apakah para almarhum menerima mendapat gelar itu, entahlah.
Namun jika membuka kembali lembar kehidupan Habibie ada dua ungkapan yang sangat menarik dan perlu menjadi renungan para kepala negara yang kini masih hidup, sebelum kematian itu menyapanya.

Pertama, ungkapan Habibie saat pidato di Cairo Mesir. “ Saya diberi kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk umat Islam, kalau saya disuruh milih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu agama”.

Kedua, ungkapan Habibie, “ Kalau saya ditanya, Habibie siapa, insinyur, muslim, ataukah Indonesia, saya jawab bahwa Habibie adalah muslim. Mengapa ?, karena kalau saya mati, saya tidak lagi berwarganegara. Kalau saya sampai ke akherat, yang ditanya bukan kewarganegaraan saya atau kedudukan saya. Karena itu saya jawab, saya muslim. Itu bukan emosional, melainkan rasional. Saya percaya, pada hari akhir, saya tidak akan ditanya soal paspor. Jadi, kalau saya jawab demikian, jangan bilang habibie tidak nasionalis. No……”. (*sumber : Majalah Forum Keadilan. Edisi Januari 1994. Dikutip dari Buku Habibie, Soeharto dan Islam, Adian Husaini, 1995, hal 34).

Kepada Raja Romawi, Heraclius, Rasulullah menulis surat :  "Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius pembesar Romawi. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk yang benar. Dengan ini saya mengajak tuan menuruti ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan menolak, maka dosa  orang-orang Arisiyin—Heraklius bertanggungjawab atas dosa rakyatnya karena dia merintangi mereka dari agama—menjadi tanggungiawab tuan. Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu takkan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam."

Maka melalui tulisan ini, kita mesti merenungkan termasuk para kepala negara yang pada akhirnya akan mendapat giliran mati, bahwa gelar dunia, kewarganegaraan dan jabatan tidaklah mampu menolong saat di pengadilan Allah kelak di akherat. Namun hanya ketundukan kepada syariahNya (muslim, mukmin dan muttaqien) lah yang bisa menyelamatkan.

Perhatikan pesan maha penting dari Allah, Tuhan Pencipta manusia dan alam semesta kepada manusia. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam (muslim)" (QS Ali Imran : 102)

Semoga tulisan ini menjadi nasehat buat penulis, masyarakat dan para pemimpin negara yang masih hidup. Semoga kita semua mendapat ujung kematian yang baik yang disebut  husnul khotimah, yakni saat sakaratul maut mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Aamiin Ya Mujibaa Saailiin.

[AhmadSastra,KotaHujan,12/09/19 : 10.00 WIB].

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Memaknai Kematian Seorang Pemimpin Negara, (Kematian adalah Nasehat Terbaik)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel