Para Pecinta Akhirat





Muslimah cadar
Endah Sulistiowati
Diri. Muslimah Voice

Rasulullah SAW bersabda "Addunya mazro'atul akhirah" yang artinya "dunia adalah tempat ladang akhirat". Hal ini bermakna dunia adalah tempat beraktivitas (bekerja dan beramal) yang hasilnya akan dipanen di akhirat.


Bagi sebagian orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup, maka dia akan benar-benar mengoptimalkan hidupnya untuk kehidupan akhiratnya. Adapun sebagian yang lain menganggap bahwa akhirat adalah ilusi semata, yang keberadaannya tidak nyata, sehingga mereka akan  dengan sekuat tenaga mengejar dunia.

Kita mengenal bani Israil yang didalam Al-Qur'an diceritakan sebagai orang-orang yang cerdas, banyak nabi diturunkan kepada mereka. Bani Israil sendiri adalah anak turun dari nabi Yakub. Kehidupan bani Israil bisa dibilang makmur dan sejahtera, dengan kecerdasan yang mereka miliki, mereka mampu membuat kehidupan mereka maju dan beradab.

Namun sayangnya dengan kelebihan yang mereka miliki tidak membuat mereka menjadi kaum yang pandai bersyukur. Mereka tidak menjadi kaum yang sam'na wa atho'na atas perintah Allah. Padahal Allah adalah sebaik-baik penerima taubat.

Berbicara tentang kecerdasan, Syaikh Taqiyudin An Nabhani membagi taraf berpikir seseorang menjadi tiga tingkatan. Pertama, taraf berpikir dangkal (tsatqi) yaitu taraf berpikir seseorang yang melihat sesuatu sekedar yang bisa di indra saja, misalkan daun itu berwarna hijau, gajah itu hewan yang sangat besar, atau banjir terjadi karena curah hujan tinggi, harga kebutuhan pokok mahal karena ini musim kemarau banyak panen gagal. Berhenti sampai disitu saja.

Yang kedua, taraf berpikir mendalam (amiq), dimana dalam taraf berpikir ini seseorang telah bisa memilah dan menelaah persoalan itu akar masalah ada dimana, bagaimana solusinya, dan langkah apa yang harus dilakukan. Sehingga ketika masalah kebutuhan barang pokok terus beranjak naik, bisa menemukan masalah utama ada dalam pendistribusian yang tersendat, banyaknya distributor yang menimbun barang, dan ada mafia yang berusaha untuk mempermainkan harga. Dan masalah ini pemerintah harus turun tangan, tidak cukup hanya dengan melakukan operasi pasar saja, atau meneken surat perintah sebagai persetujuan impor.

Yang terakhir adalah taraf berpikir cemerlang (mustanir), yaitu taraf berpikir yang mencapai bahwa hakikatnya manusia, alam, dan kehidupan ini adalah ciptaan Allah, yang harus terikat dengan atura-aturan Allah.

Dan Rasulullah SAW bersabda tentang orang-orang yang cerdas "Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas agdalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent)." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda "Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya."

Dari paparan diatas bisa kita simpulkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang terbaik dalam menyiapkan kematian dan menyiapkan "kehidupan" setelah kematiannya. Sehingga para pecinta akhirat inilah sesungguhnya orang-orang yang cerdas. Semoga kita termasuk bagian dari para pecinta akhirat, aamiin. Wallahu'alam.[]

Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Pecinta Akhirat"

Posting Komentar