RADIKAL PEYORATIF: Framing Yang Sangat Jahat dan Brutal!





Radikal
foto https://mojok.co
RADIKAL PEYORATIF:
Framing yang sangat jahat dan brutal!

by Steven Suteki

Radikal sebagai cara berpikir

Issue radikal menghangat kembali
Islam radikal vs Pancasila, apakah mungkin?


Tidak ada Islam radikal, Islam itu sangat toleran. Anda bisakah membayangkan seandainya umat Islam mayoritas di Indonesia (87% dari total jumlah penduduk) tidak toleran, saya yakin kaum minoritas akan musnah dari Indonesia. Namun lihatlah, bagaimana umat Islam itu hidup rukun dan melindungi kaum beragama lain. Itu sebagai bukti bahwa umat Islam itu sangat toleran dan tidak anti kebhinekaan, apalagi kok anti Pancasila. Mengapa? Ya karena umat Islam memahami bahwa Pancasila itu juga hasil karyanya dlm menata kehidupan bermsyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya saya pun tidak marah disebut dosen radikal, karena radikal ala Suteki adalah: RAMAH TERDIDIK DAN BERAKAL. Bukan radikal pangkal terorisme. Catat itu!

Apa sih radikal itu?

Radikal itu sebenarnya bicara tentang cara berpikir. Ada 3 tingkat level cara berpikir seseorang yg disebut dgn abstraksi.

1. Abstraksi 1 berpikir naive, langsung kongkret (ilmu2 biologi, fisika). Jadi tdk ada penyisihan materi. Berpikir secara FISIS dan NAIF.

2. Abstraksi 2, berpikirnya sdh matematis, kuantitas kualitas benda dan tdk selalu kongkret. Benda tdk selalu perlu diadakan. Misal hitung brp hasilnya 1000 kelereng yg dimiliki 1000 anak? Tdk perlu menjumlahkan 1000 kelereng kali seribu ditumpuk jadi satu. Cukup satu hasil 1000x1000 ya 1000.000 (satu juta). BERPIKIR SECARA MATEMATIS.

3. Abstraksi 3. Nah dilevel ini oranh tdk penting lagi soal fisik dan kualitas yang dicari adalah HAKIKAT. Jadi materinya disisihkan dan dicari RADIKS NYA atau akarnya atau inti dari segala ini. Ini yg disebut berpikir secara radikal, mengakar bukan hanya pada simtoma atau kulitnya saja. Ini juga kit sebut dengan BERPIKIR SECARA FILOSOFIS.

Jadi bila kita berpikir radikal maka kita tidak akan puas dengan menerima pemahaman yang dangkal dan pragmentatif melainkan harus mendalam dan holistik. Maka kalau mau bicara tentang perubahan, berarti perubahan itu juga harus mendalam dan holistik alias PERUBAHAN REVOLUSIONER SISTEMIK bukan perubahan GRADUAL SPORADIS. Perubahan yang tidak sistemik itu sebuah kesia-siaan saja sebenarnya. Butuh waktu untuk berubah itu perlu, tetapi perubahan terencana dan terstruktur dalam ROAD MAP yang jelas itu jauh lebih penting. That is radical but not radicalism, apalagi terorisme. Bukan!

Tuduhan radikal dan terpapar radikalisme

Jangan Anda mengira yang Pancasila dan NKRI itu hanya kalian dan menganggap orang lain yang berbeda pendapat dengan Anda dan atau penguasa itu RADIKALISME, TIDAK PANCASILA DAN ANTI NKRI serta UUD 1945. Anda bilang bhinneka tunggal ika, anda bilang pluralisme, anda bilang toleransi, dan anda bilang DEMOKRASI, tapi mana buktinya? Mana?

Saya sebagai dosen di perguruan tinggi memang harus radikal. Dan menjadi dosen radikal itu penting tetapi tidak mesti terkait dengan radikalisme yg telah diframing secara peyoratif. Apa jadinya kalau dosen tidak berpikir radikal? Bukankah tugas kampus itu meruhanikan ilmu dengan cara searching the truth and justice? Bisakah berpikir yg lembek, tidak mengakar, tdk holistik akan mampu menemukan kebenaran dan keadilan? Bukankah kita sekarang juga telah memasuki era itu? Kata pemerintah kita ini sekarang telah menggalakkan Revolusi Industri 4.0. dengan karakter RADIKAL, yaitu DISRUPTION. Tahukah Anda disruption? Itu perubahan  mengakar alias RADIKAL.

Pobhia terhadap perubahan yg mendasar dan mengakar inilah yang sekarang tengah melanda pikiran dan sikap warga bangsa ini yang sudah terbiasa hidup dalam comfort zone sehingga memaknai kata radikal dan radikalisme selalu dalam makna peyoratif. Pobhia ini harus dilawan dan dihentikan, apalagi bila pobhia ini telah melanda insan akademis di kampus. Mau jadi apa lembaga pendidikan tertinggi ini? Apakah Anda mau perguruan tinggi hanya akan menjadi menara gading? Akankah Perguruan Tinggi hanya akan menjadi Pabrik tenaga kerja kasar yang tidak mengerti bagaimana ia menjadi agen-agen perubahan (the agent of change)?

Radikalisme itu hanya propaganda dan bahkan hanyalah hantu yang sering dijadikan alat menakuti lawan agar tidak searching the truth and justice. Pancasila itu sudah final, artinya itu mestinya sdh mendarah daging pada setiap pikiran, sikap dan tindakan manusia Indonesia. Untuk kasus ini, mungkin Anda hanya berteriak, tapi saya mengajarkannya selama 24 tahun serta menulis dan menyebarkannya melalui karya ilmiah tesis, disertasi dll dan forum-forum ilmiah lainnya. Meskipun begitu, mengapa Anda pun masih berteriak bahwa saya ini Anti Pancasila, terpapar radikalisme dan sebutan brutal serta kejam lainnya. Siapakah Anda ini?

Apakah perlu kita mengadakan test ideologi? Anda ataukah saya sebenarnya yang tidak Pancasilais dan  radikal peyoratif itu?

Tabik..!
Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RADIKAL PEYORATIF: Framing Yang Sangat Jahat dan Brutal!"

Posting Komentar