Cara Amru bin Ash Menyelesaikan Wabah Penyakit Tha'un di Zaman Umar bin Khattab

Wabah Penyakit Tha'un di Zaman Umar bin Khattab

Beritaislam - Di zaman Rasulullah Saw dan para Sahabat juga pernah mengalami musibah wabah penyakit. Seperti yang terjadi di kota Madinah tahun ke-6 Hijriyah, kaum muslim Madinah terkena wabah penyakit tha’un (sejenis wabah penyakit kolera). Namun, Allah Ta’ala menjaga Madinah berkat doa Rasulullah Saw. Pertistiwa wabah tha’un di Madinah hanya terjadi sekali saja.

Penjelasan Nabi Soal Wabah Tha’un Wabah Penyakit  di Zaman Umar bin Khattab

Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia (‘Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid: “Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah Saw tentang masalah tha’un (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?”.


Maka Usamah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Tha’un adalah sejenis kotoran (siksa) yang ditimpakan kepada satu golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya”. (Shahih Al-Bukhari No. 3214)

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda: “Tha’un (wabah kolera) adalah semacam azab (siksaan) yang diturunkan Allah kepada Bani Israil atau kepada umat yang sebelum kamu.”

Menutup Bejana

Dari Jabir bin ‘Abdullah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup.”

Dan telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali Al Jahdlami; Telah menceritakan kepadaku Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dengan Hadis dan sanad yang serupa, hanya saja dia berkata dengan kalimat “Karena di suatu hari pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit”. Dia juga menambahkan pada akhir Haditsnya; Al Laits berkata: “Orang-orang ajam (selain orang arab) di antara kami merasa takut pada hal itu sejak bulan pertama.’ (Shahih Muslim No. 3758)

Wabah Tha’un merupakan penyakit yang mematikan pada masa Rasulullah dan para sahabat. Namun, Nabi memberi gabar gembira bagi mereka yang pernah terkena penyakit ini. Beliau bersabda: “Bahwa ada suatu azab yang Allah mengutusnya (untuk) menimpa kepada seseorang yang Dia kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidaklah bagi seseorang yang tertimpa tha’un kemudian ia berdiam diri di wilayahnya itu dengan sabar dan ia menyadari bahwa tha’un itu tidak akan menimpa kecuali telah ditetapkan Allah, kecuali ia memperoleh pahala bagaikan orang mati syahid. (HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah ra).

Wabah Tha’un di Masa Umar

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra, wabah penyakit tha’un juga pernah menjangkiti negeri Syam. Dalam peritiwa itu sekitar 20.000 orang lebih meninggal dunia. Kisah ini diceritakan dalam Hadis Shahih Muslim.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, “Suatu ketika Umar bin Khatthab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah Saw telah bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.’ Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah; bahwa Umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar Hadits Abdurrahman bin Auf”. (Shahih Muslim No. 4115)

Sikap Umar

Ketika Umar pergi ke Syam, setelah sampai di Saragh, pimpinan tentara datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Ibnu Abbas berkata; ‘Umar berkata; ‘Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang Muhajirin! ‘

Maka kupanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Kata Umar; ‘Wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Bagaimana pendapat kalian? ‘ Mereka berbeda pendapat. Sebagian mengatakan kepada Umar; ‘Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.’

Sebagian lain mengatakan; ‘Anda datang membawa rombongan besar yang di sana terdapat para sahabat Rasulullah Saw. Kami tidak sependapat jika Anda menghadapkan mereka kepada wabah penyakit ini.’ Umar berkata: ‘Pergilah kalian dari sini! ‘ Kemudian ‘Umar berkata lagi: ‘Panggil ke sini orang-orang Anshar! ‘

Maka aku memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Ternyata kebijaksanaan mereka sama dengan orang-orang Muhajirin. Mereka berbeda pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Maka kata Umar; ‘Pergilah kalian dari sini! ‘ Kata Umar selanjutnya; ‘Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah!’ Maka aku (Ibnu Abbas) memanggil mereka.

Ternyata mereka semuanya sependapat, tidak ada perbedaan. Kata mereka; ‘Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang saja kembali bersama rombongan Anda dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini. Lalu Umar menyerukan kepada rombongannya “Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian!”

Kemudian Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab: ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah?

Agaknya Umar tidak mau berdebat dengannya. Beliau menjawab: “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?”

Di tengah perbincangan Umar dengan Abu Ubaidah tiba-tiba datang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin ‘Auf yang belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata: “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Mendengar itu, akhirya Umar mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu beliau pergi. Di dalam Hadis Ma’mar ada tambahan Umar berkata: “Bukankah jika kamu menggembalakan unta di tempat yang tandus dengan meninggalkan tempat yang subur berarti kamu telah membuatnya lemah?”

Ketika itu Abu Ubaidah menjawab: “Ya.” Kemudian Umar berkata: maka berangkatlah! Maka Abu Ubaidah berangkat hingga sampai di Madinah, lalu dia berkata: “Insyaallah ini adalah tempat tinggal.” (Shahih Muslim No. 4114). [suaraislam.id]

Penyakit Thaun di Masa Umar bin Khattab


Kasus menyebarnya penyakit menular di Dunia ini bukanlah kali yang pertama, tahun 2002-2003 dunia juga sempat dihebohkan dengan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang disebut-sebut sebagai saudara dari Corona (2019-nCoV). Zaman dahulu, di Romawi pernah pandemi melanda saat terjadi perang antara Athena dan Sparta yang memakan banyak korban jiwa di kedua belah pihak di tahun 430 SM, dan sampai sekarang tidak dikenali wabah penyakit tersebut. Dalam sejarah Islam, tahun 17-18 H/sekitar 638-639 M) penyakit Tha’un (  الطاعون) di Amwas wilayah Syam telah memakan banyak korban jiwa yang diperkirakan 25 ribu jiwa, saat kaum muslim tengah menghadapi Romawi. Ketika itu kaum Muslim di bawah komando Abu Ubaidah  ibn al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal, keduanya secara bergantian wafat di tahun 18 H yang disusul oleh beberapa sahabat di Syam lantaran penyakit tersebut. Sebelumnya ‘Umar ra (w. 23 H) pernah meminta Abu ‘Ubaidah untuk keluar dari Syam namun Abu ‘Ubaidah menolak dengan beberapa alasan.

Fakta penyakit Tha’un di atas menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash (w. 55 H) dan Abd Rahman bin ‘Auf (w. 33 H) menyampaikan cara mengisolasi wilayah dan orang yang terkena penyakit mematikan tersebut berdasar hadis Nabi suci saw dalam riwayat al-Bukhari:

إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تقدموا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه…

Artinya: ”bila kalian mendengar penyakit (menular) Tha’un di sebuah tempat, maka janganlah mendatangi tempat itu. Dan jika penyakit itu terjadi di tempat sementara kalian berada di dalamnya (tempat penyakit itu) maka janganlah kalian lari (keluar) darinya.”

Hadis ini menunjukkan penyakit Tha’un merupakan penyakit jenis pandemik yang sangat dikenal ketika itu. Ibn Hajar (w. 852 H/1449 M) menjelaskan kalau larangan mendatangi tempat penyakit itu berada sebab dikhawatirkan penyakit itu akan menjangkiti siapapun yang masuk ke wilayah itu dan melarang mereka yang berada di wilayah tersebut untuk keluar darinya agar orang-orang lain di luar wilayah itu tidak terjangkiti penyakit Tha’un; ini merupakan bentuk sad al-zari’ah/semacam tindakan preventif (Ibn Hajar, XI, 2000).

Meski dikursus ulama terjadi mengenai maksud dan pemahaman hadis ini, namun yang perlu ditekankan bahwa saat itu sahabat seperti ‘Amr bin ‘Ash (w. 43 H) berusaha melakukan interpertasi kontekstual terhadap hadis di atas. Setelah kematian Abu Ubaidah dan Mu’adz lantaran Tha’un, Amar bin ‘Ash menggantikan kedudukan mereka berdua. Amar memimpin kaum muslimin keluar dari Syam menuju pengunungan, lalu Allah swt menyelamatkan mereka dari penyakit pandemik tersebut (Ibn al-Atsir, al-Kamil, II, 1979). Metode yang ditempuh Amar ini menarik mungkin untuk ditiru karena: pertama, kaum muslim yang berada di wilayah Amwas mereka tidak kembali ke Madinah, sehingga mereka tidak menularkan virus Tha’un ke masyarakat pada umumnya; kedua, Amar mencari wilayah lain sebagai tempat isolasi buat kaum Muslim dalam menghadapi penyakit tersebut.

Baca: Sejarah Puluhan Ribu Umat islam Terserang Penyakit Th'aun

Penjelasan Ustadz Budi Ashari Mengenai Sejarah penyakit Tha'un di masa Umar

Bukan orang-orang yang suka becanda

Penyakit Tha'un di Zaman Umar bin Khattab


Butuh orang² cerdas yang spesialisasinya menyelesaikan masalah² super rumit.

Simak dala video berikut ini klik 2 kali:



[beritaislam.org]

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cara Amru bin Ash Menyelesaikan Wabah Penyakit Tha'un di Zaman Umar bin Khattab"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel