Jangan Mengekor ke Amerika dan China





Jangan Mengekor ke Amerika dan China

Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Pasca Perang Dingin, konstelasi perpolitikan dunia yang berubah menuntut Indonesia mengubah orientasi Polugrinya. AS yang menjadi satu-satunya negara adidaya semakin mendominasi kancah politik internasional dan memusatkan orientasi politiknya dengan apa yang dinamai sebagai "3 in 1", yakni: lingkungan hidup, hak asasi manusia dan demokratisasi. Isu-isu tersebut pula yang menjadi tren orientasi politik Indonesia.


Di sisi lain, terjadinya Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat telah membawa arah politik internasional ke arah yang lebih didominasi AS. Ketika AS mencanangkan War on Terrorism, maka Polugri (politik luar negeri) Indonesia pun berusaha mendorong munculnya keinginan kuat dari kalangan Islam Indonesia untuk menampilkan Islam yang teduh (rahmatan lil 'alamin), yang dengan sendirinya memperkuat pengaruh Islam dalam pelaksanaan Polugri Indonesia. Indonesia berusaha turut menghindarkan perbenturan antara Islam dan Barat. Sejak saat itu Indonesia memposisikan dirinya sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia dan beraliran Islam moderat.

Hal lain, untuk memberikan pengertian bahwa Islam is compatible with democracy, Departemen Luar Negeri juga berusaha merangkul ormas-ormas Islam melalui tokoh-tokohnya yang ditujukan untuk memperkuat dialog antaragama di dunia dan memberdayakan kekuatan Islam moderat di dalam negeri.

Ironisnya, di atas kertas, politik luar negeri (Polugri) Indonesia adalah bebas-aktif. Namun, dalam praktiknya, pada masa Orde Lama, Polugri Indonesia sempat condong ke Blok Timur, yakni Blok Komunis, dan cenderung berseberangan dengan Barat. Presiden Soekarno masa itu dikenal dekat dengan Uni Sovyet dan Cina dan sebaliknya cenderung frontal terhadap Barat, khususnya AS. Pada masa Soekarno bahkan sempat muncul Poros “Jakarta-Peking”. Pada masanya mencuat jargon-jargon anti neo-kolonialisme Barat. Pada masanya Partai Komunis begitu dekat dengan Soekarno. Pada masanya pula muncul gagasan Marhaenisme yang berbau sosialis.

Setelah berlalu masa Orde Lama yang terkesan cenderung ke Blok Timur dan dekat dengan komunis, Orde Baru yang menggantikannya bergerak ke arah yang sebaliknya. Polugri pada masa Orde Baru ini lebih dekat dengan Barat, khususnya AS, yang kapitalis ketimbang dengan Uni Sovyet maupun Cina yang komunis. Bahkan di dalam negeri sendiri Partai Komunis Indonesia dilarang dan segala hal yang berbau komunis diberangus hingga karya sastra sekalipun.Selanjutnya, pada masa Orde Reformasi saat ini, Polugri Indonesia dianggap sebagian kalangan, ada kesan cenderung mengekor ke kapitalisme Barat dan Timur.

Bukti yang paling menonjol adalah, saat AS menabuh genderang Perang Melawan Terorisme dan radikalisme, Indonesia dengan serta-merta menyambutnya. Di dalam negeri Pemerintah segera menangkapi orang-orang yang diduga teroris—yang ‘kebetulan’ seluruhnya Muslim.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan Mengekor ke Amerika dan China"

Posting Komentar