PIDATO MEGAWATI, SINYAL 'RADIKAL' KEPADA PARTAI KOALISI MITRA TKN JOKOWI





MEGAWATI

Oleh : Nasrudin Joha

Nampaknya, PDIP masih menyimpan dendam politik pada Golkar. Setidaknya, ungkapan itu terlontar ketika Mega membahas posisi ketua DPR RI. Pada pemilu 2014, seyogyanya ketua DPR RI menjadi kapling PDIP selaku partai pemenang Pemilu. Namun, akibat manuver Golkar cs yang mengubah UU MD3, jabatan itu luput dari PDIP dan ditangkap oleh Golkar.


Saat ini, UU MD3 telah diubah, dimana komposisi pimpinan DPR RI mengikuti perolehan kursi di DPR. Partai dengan kursi terbanyak, berhak menjadi ketua DPR RI. PDIP merasa aman, sebab posisi ketua DPR RI jelas menjadi kapling PDIP. Puan Maharani, disebut-sebut menjadi kandidat terkuat mengisi jabatan ini.

Komitmen ketua DPR RI untuk PDIP, juga tak membuat PDIP merasa berutang budi pada Golkar. Jabatan ketua DPR RI otomatis menjadi hak PDIP, tanpa perlu lobi atau negosiasi. Karenanya, setelah memperoleh posisi ketua DPR RI, belum tentu PDIP ridlo melepas posisi ketua MPR RI untuk Golkar.

Terpisah, Golkar mengklaim partai mitra koalisi telah sepakat menunjuk Golkar sebagai pihak yang kejatah posisi ketua MPR RI. Namun, PPP melalui Arsul membantah. PPP yang juga mengincar posisi ketua MPR RI, menyatakan belum ada kesepakatan mitra TKN Jokowi mengenai posisi ketua MPR RI.

Sementara itu, PDIP belum tentu melepas posisi ketua MPR RI untuk Golkar. Sejak pertemuan Teuku Umar, terdapat sinyal tegas PDIP lebih nyaman dengan Gerindra ketimbang dengan Golkar. Gerindra, relatif lebih komitmen pada PDIP meskipun berulangkali dikhianati PDIP. Perjanjian Batu Tulis, adalah yang paling fenomenal.

Bagi PDIP, lebih nyaman memelihara kucing Gerindra ketimbang memberikan komitmen pada politisi belut Golkar. Golkar, telah terbukti mencuri posisi ketua DPR RI dari PDIP pada pemilu 2014.

Secara subjektif, PDIP lebih nyaman posisi ketua MPR RI diberikan kepada Gerindra. Apalagi, suara PDIP dan Gerindra jika digabungkan, akan menjadi hukum besi parlemen. Tak ada celah menggoyang koalisi PDIP - Gerindra.

Adapun posisi menteri, ini yang lebih membuat mitra koalisi TKN Jokowi tak bisa tidur. Tegas, dihadapan Airlangga dan Surya Paloh, Megawati menyebut posisi menteri PDIP harus terbanyak, tidak mau jika hanya dijatah 4 menteri.

Sinyal ini juga bukan dikhususkan untuk Airlangga dan Paloh. Pesan radikal ini juga ditujukan pada PPP dan PKB. Termasuk partai gurem Hanura dan PBB.

Memang, pada pemilu 2014 yang lalu PDIP terlalu banyak mengalah membagi porsi mentjeri, demi kuatnya posisi koalisi. Saat ini, PDIP nampaknya telah merasa kuat dan merasa tidak perlu berbagi banyak jatah menteri.

Padahal, koalisi mitra TKN Jokowi makin gendut, banyak partai terlibat, sejak awal banyak yang berkeringat. Lantas, bagaimana Jokowi membaginya ?

Saran saya, koalisi mitra TKN Jokowi harus 'menguasai' petugas partai PDIP. Sebab, meskipun mega pemilik saham mayoritas PDIP, tapi untuk urusan menteri itu mutlak hak prerogratif Jokowi.

Siapa yang mendapat kursi menteri terbanyak adalah pihak yang paling bisa menguasai dan mengendalikan Jokowi. Itu kuncinya. Karena itu, berusahalah menguasai Jokowi. Selamat berebut kursi ! [].

Banner iklan disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PIDATO MEGAWATI, SINYAL 'RADIKAL' KEPADA PARTAI KOALISI MITRA TKN JOKOWI"

Posting Komentar